Dalam panggung kehidupan dunia, seringkali kita diukur dari label-label yang melekat: jabatan, garis keturunan, hingga status sosial. Namun, pernahkah kita merenung, apa sesungguhnya timbangan kemuliaan di hadapan Allah? Sebuah kisah menakjubkan dari era kepemimpinan Umar bin Khattab r.a. membuka mata hati kita tentang standar kemuliaan yang hakiki, sebuah standar yang membuat singgasana dunia terasa begitu fana.

Kisah ini bermula ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, dalam perjalanannya bertemu dengan Nafi’ bin ‘Abdul Harits di daerah ‘Usfan. Nafi’ adalah gubernur yang ditugaskan Umar untuk memimpin Makkah. Setelah saling mengucap salam, Umar mengajukan pertanyaan yang sarat akan tanggung jawab kepemimpinan: “Siapakah yang engkau tugaskan untuk memimpin penduduk lembah (Makkah)?”

Jawaban Nafi’ sungguh di luar dugaan. Ia berkata, “Aku menugaskan Ibnu Abza untuk menggantikanku.” Umar, yang mengenal betul siapa saja tokoh terpandang di kalangan Quraisy, bertanya dengan heran, “Siapa itu Ibnu Abza?”

Nafi’ menjawab dengan tenang, “Dia adalah salah seorang dari mawali kami (mantan budak yang telah dimerdekakan).”

Pertanyaan Umar selanjutnya menunjukkan betapa hal ini tidak lazim pada masanya, “Engkau mengangkat seorang mawla sebagai pemimpin mereka?”

Di sinilah letak keindahan dan kedalaman iman sang gubernur. Nafi’ tidak membela keputusannya dengan argumen kekuasaan atau politik. Ia menyodorkan kualifikasi yang melampaui segala standar duniawi. “Wahai Amirul Mukminin,” ujarnya, “Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat paham Kitabullah (Al-Qur’an) dan menguasai ilmu faraidh (ilmu waris).”

Mendengar jawaban itu, wajah Umar bin Khattab berubah. Keheranannya sirna, digantikan oleh pembenaran yang bersumber langsung dari lisan Rasulullah ﷺ. Beliau kemudian mengucapkan sebuah sabda Nabi yang menggetarkan jiwa:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan sebagian kaum lainnya dengannya pula.” (Diriwayatkan dari Umar bin Khattab)

Bukan Nasab, Tapi Al-Quran sebagai Tolak Ukur

Dialog singkat namun padat ini adalah manifestasi nyata bagaimana Allah mengangkat derajat dengan Al-Quran. Ibnu Abza, yang mungkin secara nasab atau status sosial dipandang sebelah mata oleh masyarakatnya, diangkat menjadi pemimpin atas penduduk kota suci Makkah. Apa kuncinya? Bukan kekayaan atau keturunan bangsawan, melainkan kedalaman ilmunya tentang Al-Quran.

Hadis ini menjadi penegas bahwa Al-Quran adalah timbangan (mizan) dari Allah. Ia adalah instrumen ilahi yang membedakan kemuliaan sejati dan kemuliaan semu.

  • Diangkat Derajatnya: Mereka adalah orang-orang yang menjadikan Al-Quran sebagai imam dalam hidupnya. Mereka membacanya, merenungi maknanya, menghafalkannya, dan yang terpenting, mengamalkan ajaran-ajarannya dalam setiap helaan napas. Al-Quran mengubah cara pandang, melembutkan hati, dan memuliakan akhlak mereka, sehingga Allah pun memuliakan kedudukan mereka di dunia dan akhirat.
  • Direndahkan Derajatnya: Sebaliknya, ada kaum yang direndahkan oleh Al-Quran. Mereka adalah orang-orang yang memilikinya, bahkan mungkin menghafalnya, namun berpaling dari petunjuknya. Mereka menjadikan Al-Quran sebatas bacaan tanpa perenungan, atau lebih buruk lagi, mengabaikan dan menentang hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Al-Quran menjadi hujjah yang akan memberatkan mereka di hari kiamat.

Cermin Bagi Kita di Era Modern

Di zaman yang serba materialistis ini, kisah Ibnu Abza dan sabda Nabi ﷺ terasa begitu relevan. Kita hidup di tengah perlombaan mengejar validasi duniawi: gelar, jabatan, pengikut di media sosial, dan kemewahan materi. Kita sering lupa bahwa semua itu akan sirna dan tak bernilai jika tidak dilandasi oleh ketakwaan.

Kisah ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Di manakah posisi Al-Quran dalam hidup kita? Apakah ia hanya menjadi hiasan di rak buku, atau sudah menjadi cahaya yang menerangi jalan kita? Sudahkah kita berusaha memahaminya, atau hanya puas dengan membacanya tanpa mengerti? Sebab, janji Allah itu pasti, bahwa Allah mengangkat derajat dengan Al-Quran, dan kemuliaan yang datang darinya adalah kemuliaan yang abadi.

Maka, kemuliaan Ibnu Abza bukanlah kebetulan. Ia adalah buah dari kesungguhannya berinteraksi dengan Kalamullah. Sebuah pelajaran abadi bahwa di hadapan Allah, yang membuat kita bernilai bukanlah siapa kita di mata manusia, melainkan seberapa dekat kita dengan petunjuk-Nya. Jika hati kita tergerak untuk memulai atau memperdalam perjalanan mulia ini, maka tidak ada kata terlambat untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat utama kita, sebagaimana yang diajarkan di Qur’an Learning Center Yogyakarta.

Daftar Referensi

  • Al-Qasim bin Sallam, Fadhailul Qur’an.
  • Hadis tentang Al-Quran mengangkat derajat diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,