Dalam setiap lembar kehidupan, kita senantiasa dihadapkan pada pilihan, di mana setiap niat menjadi penentu arah perjalanan. Terlebih lagi, saat kita menyelami lautan firman Allah yang begitu agung, Al-Qur’an, niat adalah kompas utama yang membimbing kita. Apakah kita menggaulinya sebagai sumber hidayah semata, ataukah ada maksud tersembunyi yang mengotori kesucian interaksi kita?
Sesungguhnya, kita semua memahami kemuliaan Al-Qur’an. Ia adalah cahaya, petunjuk, dan penawar bagi jiwa-jiwa yang gundah. Namun, seringkali tanpa disadari, nafsu duniawi mampu menyelinap dan merusak keikhlasan, mengubah ibadah menjadi semacam “transaksi” yang merugikan di hadapan Rabb semesta alam. Inilah substansi dari peringatan yang perlu kita renungkan bersama: betapa mendalamnya bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah atau meraih keuntungan duniawi.
Wajah Tanpa Daging: Sebuah Peringatan Keras
Mari kita menelisik sebuah riwayat yang menggetarkan jiwa, sebuah cermin yang memantulkan kondisi niat kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hadits ini disampaikan oleh Zadzhan, salah seorang tabi’in terkemuka, dari sumber yang kuat:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ وَاقِدٍ مَوْلَى يَزِيدَ بْنِ خُلَيْدَةَ، عَنْ زَاذَانَ، قَالَ: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لِيَسْتَأْكِلَ النَّاسَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ عَظْمٌ لَيْسَ عَلَيْهِ لَحْمٌ»
Diceritakan kepada kami Abdurrahman, dari Sufyan, dari Waqid, maula Yazid bin Khulaidah, dari Zadzhan, ia berkata: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an untuk mencari makan (mendapatkan harta/keuntungan) dari manusia, ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah berupa tulang yang tidak ada dagingnya.”
Peringatan ini begitu lugas dan tegas. Bayangkanlah, sebuah wajah yang datang pada hari kiamat, hari di mana setiap manusia mengharapkan kemuliaan dan rahmat, justru hadir dalam kondisi tulang belulang tanpa daging. Ini bukan sekadar gambaran fisik yang mengerikan, melainkan metafora mendalam tentang kehinaan dan kerugian yang tiada tara bagi mereka yang niatnya tercampur. Wajah, sebagai representasi kemuliaan dan kehormatan manusia, direnggut seluruhnya, menyisakan kerangka kosong yang menandakan ketiadaan berkah dan pahala.
Mengapa demikian? Karena Allah SWT adalah Dzat yang Maha Melihat isi hati. Dia tidak menerima suatu amal kecuali jika diniatkan murni hanya untuk-Nya. Ketika Al-Qur’an, Kalamullah yang suci, dijadikan “alat” untuk mengumpulkan harta, pujian, atau status di mata manusia, maka hakikat ibadah itu telah cacat. Ia telah kehilangan nilai intrinsiknya dan dipertukarkan dengan hal-hal fana yang tak bernilai di sisi Allah. Inilah salah satu bentuk nyata dari bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah dengan niat yang keliru.
Menelisik Motif di Balik Tilawah dan Pengajaran Qur’an
Peringatan ini seyogianya membuat kita introspeksi. Sebagai umat Islam, interaksi kita dengan Al-Qur’an harus murni karena Allah. Tilawah yang kita lakukan, hafalan yang kita upayakan, pengajaran yang kita sampaikan, semuanya harus berlandaskan niat mencari ridha-Nya. Bukan karena ingin disebut qari yang merdu, hafidz yang hebat, atau ustadz yang berilmu, apalagi sekadar untuk mendapatkan imbalan materi.
Tentu, bukan berarti mengambil upah atau menerima imbalan atas pengajaran Al-Qur’an itu terlarang secara mutlak. Para ulama telah membahas hal ini secara mendalam. Imbalan atau upah yang diterima oleh seorang pengajar Al-Qur’an, misalnya, bisa dibenarkan jika itu sebagai bentuk pengganti waktu dan tenaga yang ia curahkan, sehingga ia bisa fokus mengajar tanpa harus memikirkan kebutuhan pokok. Namun, niat dasarnya tetaplah karena Allah, dan upah itu hanyalah sarana penopang keberlangsungan dakwah.
Poin pentingnya adalah, jangan sampai niat awal dan utama kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an bergeser menjadi orientasi materi atau sanjungan. Di sinilah letak bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah secara tidak proporsional dan tidak ikhlas. Niat itu ibarat pondasi, jika pondasinya goyah atau kotor, maka bangunan di atasnya pun akan rapuh. Kita harus senantiasa memeriksa kembali hati kita, apakah motivasi utama kita semata-mata mengharap wajah Allah ataukah ada tendensi duniawi yang terselip.
Kemuliaan Ikhlas dalam Berinteraksi dengan Kalamullah
Lantas, bagaimana agar kita senantiasa terjaga dari jebakan ini? Kuncinya adalah keikhlasan. Ikhlas berarti membersihkan hati dari segala bentuk pamrih duniawi, hanya mengharapkan wajah Allah semata dalam setiap amal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Q.S. Al-Baqarah: 174)
Ayat ini menguatkan Hadits di atas, menegaskan betapa berbahayanya menukar ayat-ayat Allah dengan kesenangan dunia yang fana. Orang yang menyembunyikan kebenaran atau memutarbalikkan maknanya demi keuntungan pribadi, atau menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana dagang, sesungguhnya sedang menukar surga dengan neraka. Mereka seolah mengisi perutnya dengan bara api, dan pada hari kiamat, Allah tidak akan memandang mereka, apalagi menyucikan mereka.
Mari kita jadikan setiap bacaan, hafalan, dan pengajaran Al-Qur’an sebagai ibadah yang murni. Fokuskan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, memahami kalam-Nya, dan mengamalkan ajaran-Nya. Biarkan Allah yang Maha Pemberi Rezeki mengatur segala kebutuhan kita, tanpa harus mengorbankan kemurnian niat dalam berinteraksi dengan kitab suci-Nya. Menyadari bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah adalah langkah pertama untuk menjaga keikhlasan. Ketika kita ikhlas, Allah akan membuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan memberikan keberkahan yang jauh lebih besar dari sekadar keuntungan materi yang dicari secara paksa.
Memurnikan Niat dan Meraih Keberkahan Sejati
Al-Qur’an adalah rahmat, bukan komoditas. Ia adalah petunjuk, bukan alat tawar-menawar. Interaksi kita dengannya seharusnya membawa ketenangan jiwa, pembersihan hati, dan peningkatan ketakwaan. Jika niat kita benar, maka setiap huruf yang kita baca akan menjadi syafaat, setiap ayat yang kita pahami akan menjadi ilmu yang bermanfaat, dan setiap ajaran yang kita sampaikan akan menjadi dakwah yang mencerahkan.
Marilah kita kembali memurnikan niat kita. Membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, dan mengajarkannya haruslah semata-mata karena Allah. Jauhkan diri dari keinginan untuk dipuji, disanjung, atau mendapatkan imbalan duniawi. Karena pada akhirnya, yang akan kekal hanyalah amal yang dilandasi keikhlasan dan niat tulus karena-Nya. Ini adalah esensi dari menjauhkan diri dari bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap istiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dengan niat yang murni dan bersih, sehingga kita dapat meraih kemuliaan sejati di dunia dan akhirat, jauh dari kerugian seperti wajah tulang tanpa daging yang menjadi gambaran bahaya menjadikan Al-Qur’an alat mencari nafkah. Mari kita wujudkan pribadi yang Qur’ani sejati, yang mengabdi pada Al-Qur’an, bukan justru mencari keuntungan darinya.
—-
Bagi kita yang ingin memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an, meraih hafalan yang kokoh dengan metode yang efektif, dan menata niat agar senantiasa lurus, kami mengundang Anda untuk bergabung dengan program Executive Tahfizh di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sana, kita akan belajar bersama untuk menggapai keberkahan Al-Qur’an dengan keikhlasan yang hakiki, demi wajah yang berseri di hari perhitungan kelak.
Daftar Referensi
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an Abu Ubaid, Bab Al-Qari’ Yasta’kil bi Al-Qur’an wa Yarza’ ‘alaihi Al-Amwal wa Ma fi Dzalika min Al-Karahah wa At-Tasyadid, halaman 208, Maktabah Syamilah. (Rujukan: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
- Al-Qur’an Surah Al-Baqarah, Ayat 174.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

