Dalam riuhnya kehidupan yang kerap melenakan, kita seringkali sibuk mencari dan mengumpulkan apa yang dunia tawarkan: harta, tahta, popularitas. Semua itu seolah menjanjikan kebahagiaan dan keberuntungan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenung, apakah definisi “kekayaan” yang sejati itu?

Bagi seorang Muslim yang memahami hakikat hidup, ada harta yang jauh lebih berharga, tak lekang oleh waktu, dan menjadi bekal abadi hingga akhirat. Harta itu adalah Al-Qur’an. Ia bukan hanya sekumpulan huruf dan ayat, melainkan cahaya yang menerangi kegelapan, petunjuk yang meluruskan jalan, dan sumber keberuntungan yang tak terhingga.

Al-Qur’an Bukan Sekadar Bantal: Pesan Mendalam dari Rasulullah

Rasulullah ﷺ, dengan hikmahnya yang mendalam, pernah memberikan nasihat berharga kepada kita sebagai umatnya, terutama kepada mereka yang mengaku “ahli Al-Qur’an”. Sebuah pesan yang harus kita resapi agar tidak terjebak dalam kesia-siaan.

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ ثنا أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنِ الْمُهَاصِرِ بْنِ حَبِيبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، لَا تَوَسَّدُوا الْقُرْآنَ، وَاتْلُوهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَتَغَنَّوْهُ، وَتَقَنَّوْهُ، وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ» . قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: قَوْلُهُ: تَغَنَّوْهُ، يَقُولُ: اجْعَلُوهُ غِنَاكُمْ مِنَ الْفَقْرِ، وَلَا تَعُدُّوا الْإِقْلَالَ مَعَهُ فَقْرًا. وَقَوْلُهُ: تَقَنَّوْهُ، يَقُولُ: اقْتَنُوهُ كَمَا تَقْتَنُونَ الْأَمْوَالَ، وَاجْعَلُوهُ مَالَكُمْ.

Dalam riwayat ini, Rasulullah ﷺ menyeru, “Wahai ahli Al-Qur’an, janganlah kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal…” Ungkapan “jangan jadikan Al-Qur’an bantal” menyimpan makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar larangan meletakkan mushaf di bawah kepala, namun sebuah teguran agar kita tidak menelantarkan, melupakan, atau mengabaikan Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Al-Qur’an seharusnya menjadi sumber inspirasi, panduan hidup, dan teman setia, bukan sekadar pajangan atau bacaan sesekali yang kemudian terlupakan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai “bantal” adalah metafora untuk sikap abai, menyepelekannya, dan tidak menjadikannya prioritas utama dalam menjalani hari-hari.

Tiga Pilar Memuliakan Al-Qur’an dan Meraih Keberuntungan

Setelah larangan untuk tidak mengabaikan Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ kemudian memberikan petunjuk praktis tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengannya agar meraih keberuntungan. Ada tiga pilar utama yang patut kita renungkan dan amalkan:

1. Membaca dengan Sebenar-benarnya Bacaan (وَاتْلُوهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ)

Perintah “bacalah ia dengan sebenar-benar bacaan pada waktu malam dan siang” mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar melafalkan huruf-huruf Arab. “Haqqa tilawatihi” berarti membaca dengan tartil, memahami maknanya, merenungi setiap ayatnya, menghayati pesan-pesan ilahinya, dan yang terpenting, mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Membaca Al-Qur’an adalah pintu gerbang menuju pemahaman, dan pemahaman adalah kunci untuk mengubah pola pikir serta tindakan kita. Ini adalah interaksi yang aktif dan berkelanjutan, bukan sekadar tugas yang diselesaikan lalu ditinggalkan.

2. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Kekayaan (وَتَغَنَّوْهُ)

Abu Ubaid menjelaskan makna “taghonnauhu” sebagai, “Jadikanlah ia kekayaan kalian dari kemiskinan, dan janganlah kalian menganggap kefakiran bersama Al-Qur’an itu sebagai kefakiran.” Ini adalah inti dari “Al-Qur’an sebagai harta sejati”. Di tengah kondisi ekonomi apapun, atau saat kita merasa kekurangan dalam hal materi, kehadiran Al-Qur’an seharusnya memberikan kita rasa cukup dan kaya. Ia adalah sumber ketenangan batin, kekuatan spiritual, dan kekayaan jiwa yang tak ternilai. Dengan Al-Qur’an, kita tidak akan pernah merasa miskin, karena kita memiliki petunjuk dari Tuhan semesta alam, yang jauh lebih berharga dari seluruh isi dunia.

3. Mengamalkan dan Menjadikannya Harta (وَتَقَنَّوْهُ)

Makna “taqonnauhu” dijelaskan oleh Abu Ubaid sebagai, “Kumpulkanlah ia sebagaimana kalian mengumpulkan harta benda, dan jadikanlah ia harta kalian.” Ini adalah seruan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai aset paling berharga dalam hidup kita. Sebagaimana kita bersungguh-sungguh mengumpulkan dan menjaga harta benda, begitu pula kita seharusnya bersungguh-sungguh dalam menghafal, mempelajari, memahami, dan mengamalkan setiap ajaran Al-Qur’an. Ilmu dan amal dari Al-Qur’an yang kita kumpulkan akan menjadi investasi terbaik untuk dunia dan akhirat, memberikan manfaat yang berkelanjutan, dan menjadi penolong di Hari Kiamat. Ini adalah kekayaan yang akan terus bertumbuh dan memberikan keuntungan abadi.

Al-Qur’an: Cahaya, Petunjuk, dan Rahmat

Janji keberuntungan bagi mereka yang berinteraksi dengan Al-Qur’an secara benar juga ditegaskan dalam firman Allah ﷻ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57)

Ayat ini menguatkan bahwa Al-Qur’an adalah solusi komprehensif untuk berbagai permasalahan hidup. Ia adalah “mau’izhah” (pelajaran) yang menyadarkan, “syifaa’un lima fis-shuduur” (penyembuh bagi penyakit hati) dari kesombongan, iri hati, dan kesempitan jiwa, serta “hudan wa rahmatun lil-mu’minin” (petunjuk dan rahmat) yang membimbing kita menuju kebahagiaan sejati. Tidakkah ini adalah bentuk kekayaan yang paling hakiki, yang mampu menenangkan jiwa, menyembuhkan luka batin, dan membimbing kita menuju jalan lurus?

Transformasi Hidup Melalui Interaksi Al-Qur’an

Menginternalisasi pesan-pesan ini akan membawa kita pada transformasi hidup yang nyata. Ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai kekayaan, pola pikir kita akan bergeser dari orientasi materi semata menuju keberlimpahan spiritual. Tindakan kita akan termotivasi bukan hanya oleh keinginan duniawi, tetapi oleh dorongan untuk meraih ridha Ilahi. Kita akan menemukan ketenangan dalam setiap kesulitan, kekuatan dalam setiap kelemahan, dan harapan dalam setiap keputusasaan. Al-Qur’an menjadi kompas yang memandu kita mengambil keputusan, filter yang menyaring informasi, dan lentera yang menerangi jalan di kala gelap gulita. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai harta sejati, kita akan menemukan makna hidup yang mendalam dan meraih keberuntungan yang abadi.

Maka, mari kita renungkan, sudahkah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai harta yang paling berharga? Sudahkah kita membacanya dengan sebenar-benar bacaan, menjadikannya sumber kecukupan, dan mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan? Jika belum, ini adalah saatnya untuk kembali merangkul kalamullah, memuliakannya, dan menjadikan ia prioritas utama. Karena pada hakikatnya, dengan Al-Qur’anlah kita menemukan arti sejati sebuah kekayaan dan meraih keberuntungan yang dijanjikan.

Jika kita merasa bingung harus mulai dari mana, atau membutuhkan bimbingan untuk mendalami Al-Qur’an, kini saatnya untuk mencari lingkungan yang mendukung. Bergabunglah dengan program belajar Al-Qur’an yang intensif dan terarah, di mana kita dapat belajar bersama, memperdalam pemahaman, dan menghafal kalamullah dengan metode yang teruji. Jadikanlah setiap ayat sebagai bekal, setiap halaman sebagai pelita, dan setiap juz sebagai tangga menuju keberkahan hidup.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab Fadhail Al-Hadh ala Al-Qur’an, halaman 70, via Shamela.ws
  • Q.S. Yunus: 57

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,