Al-Quran, kalamullah yang agung, adalah petunjuk hidup bagi setiap insan yang beriman. Ia adalah cahaya yang menerangi kegelapan, penawar bagi hati yang sakit, dan sumber hikmah tak terbatas. Namun, dalam perjalanan waktu, muncul sebuah fenomena yang patut kita renungkan bersama: ketika kemuliaan Al-Quran tereduksi, terkesan seperti sebuah komoditas, bahkan ada yang menjadikannya sebagai instrumen untuk meraih keuntungan duniawi. Ini adalah sebuah kekeliruan besar yang dapat mengikis keberkahan dan nilai sakral dari firman-firman Allah SWT.
Memurnikan Niat: Jauhi Bahaya Menjadikan Al-Quran Sebagai Mata Pencarian
Para ulama telah banyak membahas tentang etika dan adab berinteraksi dengan Al-Quran. Salah satu poin penting yang seringkali luput dari perhatian kita adalah larangan atau setidaknya kemakruhan menjadikan Al-Quran sebagai sumber penghasilan utama yang semata-mata bersifat transaksional. Imam As-Suyuthi dalam karyanya “Al-Itqan fi Ulumil Quran” menyampaikan sebuah peringatan serius mengenai hal ini:
يُكْرَهُ اتِّخَاذُ الْقُرْآنِ مَعِيشَةً يُتَكَسَّبُ بِهَا. وَأَخْرَجَ الْآجُرِّيُّ مِنْ حَدِيثِ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ مَرْفُوعًا: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلْيَسْأَلِ اللَّهَ بِهِ فَإِنَّهُ سيأتي قوم يقرؤون الْقُرْآنَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ بِهِ».
Artinya: “Dimakruhkan menjadikan Al-Quran sebagai mata pencarian yang dengannya seseorang mencari keuntungan. Al-Ajurri meriwayatkan dari hadits Imran bin Hushain secara marfu’: ‘Barangsiapa membaca Al-Quran, maka hendaklah ia meminta (ganjaran) kepada Allah dengannya, karena sungguh akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran, lalu mereka meminta (upah) kepada manusia dengannya.'”
Pernyataan ini bukan berarti kita dilarang mencari rezeki yang halal, bukan pula bermakna bahwa para pengajar Al-Quran harus hidup dalam kemiskinan. Sama sekali tidak. Esensinya terletak pada niat dan motivasi utama. Ketika seseorang membaca, mengajarkan, atau menghafal Al-Quran dengan tujuan utama untuk mencari dunia, untuk mendapatkan imbalan materi dari manusia, maka di sinilah letak masalahnya. Kemakruhan ini muncul karena niat yang tidak murni, menggeser fokus dari Allah SWT kepada makhluk-Nya.
Kita seringkali melihat fenomena di mana “jasa” membaca Al-Quran ditawarkan untuk berbagai acara, bahkan dengan tarif yang telah ditentukan. Tentu, dalam beberapa konteks, seperti mengajar tahfizh di lembaga pendidikan, seorang guru berhak mendapatkan gaji sebagai bentuk nafkah atas waktu dan tenaganya. Namun, ada perbedaan mendasar antara menerima gaji atas upaya pengajaran dengan sengaja menjadikan membaca atau menghafal Al-Quran sebagai satu-satunya “profesi” yang transaksional, di mana nilai ibadah itu sendiri menjadi tereduksi.
Mari kita renungkan. Apakah niat kita membaca dan menghafal Al-Quran untuk meraih keridaan Allah, untuk menimba ilmu, dan untuk mendapatkan pahala di akhirat? Atau justru niat itu bergeser, mencari pujian manusia, pengakuan, atau bahkan imbalan materi semata? Inilah yang menjadi inti peringatan dalam hadits tersebut. Hadits ini mengingatkan kita akan adanya suatu kaum di masa depan yang akan datang, yang akan membaca Al-Quran, namun motivasi mereka adalah untuk meminta-minta kepada manusia dengannya. Ini menunjukkan betapa seriusnya pergeseran niat dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Waspada Terhadap Penyalahgunaan Al-Quran untuk Keuntungan Duniawi
Lebih jauh lagi, ada peringatan keras terhadap penggunaan Al-Quran untuk tujuan yang lebih merusak, yaitu mencari keuntungan atau kedudukan di hadapan penguasa zalim. Imam Bukhari dalam “Tarikhul Kabir” meriwayatkan:
وَرَوَى الْبُخَارِيُّ فِي تَارِيخِهِ الْكَبِيرِ بِسَنَدٍ صَالِحٍ حَدِيثَ: «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ عِنْدَ ظَالِمٍ لِيَرْفَعَ مِنْهُ لُعِنَ بِكُلِّ حِرَفٍ عَشْرَ لَعَنَاتٍ».
Artinya: “Dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam ‘Tarikhul Kabir’ dengan sanad yang sahih sebuah hadits: ‘Barangsiapa membaca Al-Quran di sisi seorang zalim untuk mengangkat (kedudukannya) dari dia (zalim tersebut), maka dia dilaknat dengan sepuluh laknat untuk setiap huruf.'”
Peringatan ini menunjukkan betapa besar dosa dan Bahaya Menjadikan Al-Quran Sebagai Mata Pencarian atau alat untuk mendapatkan posisi, kekuasaan, atau pengaruh dari orang-orang yang zalim. Al-Quran yang seharusnya menjadi sumber kebenaran, keadilan, dan keberanian untuk menghadapi kebatilan, justru digunakan sebagai jembatan untuk bermanis-manis ria dengan kezaliman. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap kemuliaan kalamullah dan akan mendatangkan laknat dari Allah SWT.
Setiap huruf yang dibaca seharusnya mendatangkan pahala dan keberkahan, namun ketika niatnya melenceng untuk mendukung kezaliman, justru laknat yang didapatkan. Ini merupakan teguran keras bagi kita agar senantiasa menjaga kesucian niat dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Jangan sampai kita menggadaikan ayat-ayat suci demi kepentingan duniawi yang fana, apalagi untuk mendukung kezaliman. Al-Quran adalah pembeda antara hak dan batil, bukan alat untuk membenarkan yang salah.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk terus mengintrospeksi diri. Apakah interaksi kita dengan Al-Quran murni karena Allah? Apakah kita membacanya untuk mencari hidayah, meraih pahala, dan mendekatkan diri kepada-Nya? Atau ada motif-motif lain yang menyelinap, seperti mencari popularitas, kekayaan, atau pujian dari manusia? Ingatlah, bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa orang yang membaca Al-Quran untuk meminta-minta kepada manusia, maka pada hari kiamat wajahnya akan datang tanpa daging, karena Al-Quran adalah sebaik-baik perbekalan akhirat, maka janganlah disia-siakan untuk dunia.
Mari kita jadikan Al-Quran sebagai penuntun hidup, bukan sebagai alat untuk mencari keuntungan sesaat. Hendaklah kita menjadi hamba-hamba Allah yang tulus dalam membaca, menghafal, dan mengamalkan setiap ayat-Nya. Sebab, kemuliaan Al-Quran terletak pada keberkahan yang Allah limpahkan kepada mereka yang tulus dan ikhlas berinteraksi dengannya, bukan pada berapa banyak materi yang bisa didapatkan darinya. Pemurnian niat adalah kunci utama untuk meraih keberkahan sejati dari Al-Quran dan menghindari Bahaya Menjadikan Al-Quran Sebagai Mata Pencarian.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu memuliakan Al-Quran dengan sebenar-benarnya, menjauhkan kita dari godaan dunia yang dapat mengikis nilai-nilai luhur dari kalamullah. Mari kita isi setiap detik hidup dengan Al-Quran, bukan untuk dunia, melainkan untuk bekal terbaik menuju Jannah-Nya. Bersihkan hati dari niat-niat duniawi yang dapat merusak kemuliaan interaksi kita dengan firman Allah.
Jika Anda merasakan kerinduan mendalam untuk lebih dekat dengan Al-Quran, dengan bimbingan yang tepat dan lingkungan yang kondusif, maka Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi jembatan bagi Anda. Mari bergabung dalam program Executive Tahfizh, sebuah kesempatan emas untuk menghafal Al-Quran dengan metode yang teruji, dibimbing oleh para pengajar yang berdedikasi. Jadikan perjalanan Anda bersama Al-Quran sebagai ibadah murni, lurus karena Allah semata.
Daftar Referensi
- Imam As-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. *Al-Itqan fi Ulumil Quran*. Cetakan: 1394 H/1974 M. Penerbit: Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Ammah lil Kitab.
- Imam Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. *Tarikhul Kabir*.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


