Pernahkah Kita merasa waktu berlalu begitu cepat, dari pagi ke sore, dari Senin ke Minggu, hingga tanpa terasa tahun demi tahun berganti, namun tidak ada satu pun perubahan berarti dalam kualitas iman kita? Kita sangat sibuk dengan rutinitas, bekerja keras mengejar angka, dan asyik dengan hiburan di layar ponsel, namun saat panggilan azan berkumandang atau saat membaca ayat-ayat-Nya, hati kita terasa datar, kosong, dan tidak bergetar. Sahabat Qur’an yang saya cintai, berhati-hatilah, karena kondisi “tidur panjang” di tengah meleknya mata ini adalah apa yang dinamakan Al-Ghaflah atau kelalaian yang mematikan.
Mengenal Al-Ghaflah: Penyakit Halus yang Meninabobokan
Al-Ghaflah bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, orang yang lalai seringkali terlihat sangat produktif di mata dunia. Masalahnya, mereka produktif untuk hal-hal yang fana namun “absen” dalam hal-hal yang bersifat abadi. Kita hidup seolah-olah akan selamanya berada di dunia ini, lupa akan tujuan awal mengapa kita diciptakan, dan mengabaikan kenyataan bahwa ajal tidak pernah mengetuk pintu sebelum ia datang menjemput.
Dampak dari kelalaian ini sungguh mengerikan bagi kesehatan spiritual kita. Hati yang terus-menerus terpapar ghaflah perlahan-lahan akan membatu (qaswatul qalb). Hidayah sulit masuk, nasihat hanya lewat di telinga tanpa menyentuh rasa, dan dosa-dosa kecil mulai dianggap biasa. Kita menjadi seperti orang yang sedang bermimpi indah di dalam rumah yang sedang terbakar; kita bahagia dalam khayalan, padahal bahaya besar sedang mengintai di depan mata.
وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suaramu, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)
Zikir: Alarm Utama Pembasmi Kelalaian
Allah SWT memberikan resep yang sangat ampuh dalam Surah Al-A’raf ayat 205 untuk melawan penyakit ini. Solusinya adalah Zikrullah (mengingat Allah). Namun, zikir yang dimaksud bukan sekadar gerak bibir tanpa kehadiran hati. Zikir yang mampu mengusir ghaflah adalah zikir yang dilakukan dengan tadharru’ (kerendahan hati) dan khifah (rasa takut akan keagungan Allah).
Mengapa zikir di waktu pagi dan petang begitu ditekankan? Karena itulah saat-saat transisi di mana dunia seringkali mulai menarik perhatian kita sepenuhnya. Dengan berzikir, kita sebenarnya sedang memasang “alarm” bagi jiwa agar tetap terjaga. Zikir adalah pengingat bahwa di balik kesibukan kita mencari nafkah, ada Dzat Yang Maha Memberi Rezeki yang harus kita syukuri. Di balik lelahnya kita menghadapi ujian, ada Allah tempat kita kembali.
Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran-Nya
Selain zikir lisan dan hati, solusi Qur’ani lainnya adalah dengan melakukan Tafakkur—merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta dan dalam diri kita sendiri. Kelalaian sering muncul karena kita hanya melihat permukaan hidup. Kita melihat hujan, tapi lupa pada Sang Pemberi Hujan. Kita melihat kesembuhan, tapi lupa pada Sang Maha Penyembuh.
Sahabat Qur’an, luangkanlah waktu sejenak di tengah kesibukan Kita untuk sekadar menatap langit atau merenungi detak jantung kita sendiri. Sadarilah bahwa setiap embusan napas kita adalah izin dari Allah. Ketika kita mulai melihat “tangan” Allah dalam setiap kejadian, maka ghaflah akan sirna dan berganti menjadi rasa takjub serta syukur yang mendalam. Hati yang terjaga akan selalu waspada, sehingga ia tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa ada tabungan amal untuk akhirat.
Menghindari Penyesalan yang Terlambat
Salah satu tragedi terbesar manusia adalah baru “terbangun” saat maut menjemput. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana orang-orang yang lalai akan memohon untuk dikembalikan ke dunia meski hanya sekejap untuk beramal shaleh, namun pintu itu sudah tertutup. Kita tentu tidak ingin menjadi golongan yang menyesal saat bekal belum siap dan waktu sudah habis.
Mari kita mulai hari ini dengan niat untuk hidup lebih sadar (mindful) secara spiritual. Jadikan Al-Qur’an sebagai kompas agar hidup kita punya arah yang jelas. Jangan biarkan gemerlap dunia menipu mata kita hingga kita lupa pada cahaya akhirat yang abadi. Sahabat Qur’an, mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan, agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi karena tertidur dalam kelalaian.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita agar tetap basah dengan zikir kepada-Nya, menjauhkan kita dari sifat lalai, dan mematikan kita kelak dalam keadaan husnul khatimah, saat hati kita benar-benar terjaga dan rindu bertemu dengan-Nya.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

