Setiap lembar Al-Qur’an adalah cerminan dari kehidupan, dan setiap akhir surah seringkali membawa kita pada sebuah titik renungan yang mendalam. Seolah-olah, setelah menelaah berbagai hukum, kisah, dan petunjuk di sepanjang surah, Allah Swt. ingin menyimpulkan semuanya dengan sebuah pesan inti yang menggema di relung hati. Begitulah kiranya yang kita rasakan saat sampai pada penghujung Surah Al-Ma’idah.

Surah yang dinamakan “Hidangan” ini telah membentangkan banyak sekali ajaran. Dari hukum-hukum syariat, perjanjian dengan Bani Israil, hingga kisah-kisah para nabi. Namun, di puncaknya, pada ayat-ayat terakhir, Al-Qur’an mengajak kita untuk menatap sebuah realitas yang tak terhindarkan: pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta dan seruan untuk kembali kepada-Nya dengan kesadaran penuh.

Pertanyaan Allah kepada Para Rasul: Sebuah Pengingat bagi Kita

Mari kita mulai perenungan ini dari ayat ke-109:

يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ فَيَقُوْلُ مَاذَآ اُجِبْتُمْ ۗقَالُوْا لَا عِلْمَ لَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

(Ingatlah) hari (ketika) Allah mengumpulkan para rasul lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (umat) kepadamu?” Mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 109)

Bayangkanlah sejenak, sebuah hari ketika para utusan terbaik Allah, para nabi yang telah membawa risalah kebenaran, akan ditanya. Bukan pertanyaan biasa, melainkan tentang respon umatnya. Jawaban mereka, “Kami tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib,” menunjukkan betapa dahsyatnya hari itu. Jika para rasul pun merasakan kerendahan hati sedemikian rupa di hadapan Allah, bagaimana dengan kita, umatnya?

Ayat ini adalah pukulan lembut yang menggugah. Ia mengingatkan kita bahwa setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya. Amanah risalah yang dibawa para nabi, dan amanah hidup yang kita emban. Ini bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin bagi masa depan kita.

Kisah Nabi Isa AS dan Hidangan dari Langit: Kekuasaan dan Ujian Keimanan

Selanjutnya, Al-Qur’an membawa kita kepada kisah Nabi Isa AS, memperlihatkan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan ujian keimanan yang menyertainya:

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًا بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ ۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْ ۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhulqudus (Jibril). Engkau dapat berbicara dengan manusia waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Ingatlah ketika Aku mengajarkan kepadamu Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Ingatlah ketika engkau menciptakan dari tanah berbentuk seperti burung dengan seizin-Ku, lalu engkau meniupnya sehingga menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah juga) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (Ingatlah juga) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari niat jahat mereka terhadapmu) di kala engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 110)

Ayat-ayat berikutnya (111-115) mengisahkan tentang permohonan hidangan dari langit, sebuah mukjizat yang juga menjadi ujian besar. Semua keajaiban ini, dari berbicara di buaian hingga menghidupkan orang mati, selalu ditegaskan dengan frasa “dengan izin-Ku”. Ini adalah kunci. Sebuah penekanan bahwa semua mukjizat itu bukan karena kekuatan Nabi Isa AS semata, melainkan karena keagungan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.

Kisah ini mengajak kita untuk merenung: apakah kita melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam hidup kita? Apakah kita memahaminya sebagai nikmat, atau justru melalaikannya, bahkan menyalahartikannya? Kekuasaan Allah adalah mutlak, dan semua yang terjadi di alam semesta ini adalah atas izin-Nya.

Puncak Tauhid: Dialog Allah dengan Nabi Isa AS

Inilah bagian yang paling menggugah dan menggetarkan hati, puncak dari seruan untuk kembali kepada Allah, sebuah dialog yang akan menegaskan hakikat keimanan kita:

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗقَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗاِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah’?” Dia (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 116)

Dialog ini begitu lugas, begitu gamblang, dan begitu menghujam. Allah bertanya kepada Nabi Isa AS tentang klaim ketuhanan dirinya dan ibunya. Dan jawaban Nabi Isa AS adalah penolakan mutlak, sebuah penegasan tauhid yang tak tergoyahkan. Ia bahkan bersumpah bahwa jika ia pernah mengatakan hal itu, pasti Allah mengetahuinya, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui segala rahasia.

Lebih lanjut, Nabi Isa AS menegaskan misinya:

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚوَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚفَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۗوَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkanku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkaulah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 117)

Ini adalah pengakuan yang jelas: tujuan utamanya adalah mengajak manusia menyembah Allah semata, Tuhan yang sama bagi Nabi Isa AS dan bagi umatnya. Sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya bagi kita semua, untuk senantiasa meluruskan akidah, bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan semua nabi, tanpa terkecuali, adalah hamba-Nya.

Mengapa Dialog Ini Begitu Penting bagi Kita?

  • Penegasan Tauhid
    Dialog ini adalah tamparan keras bagi segala bentuk syirik, penyekutuan Allah. Ia mengingatkan kita untuk membersihkan hati dari segala bentuk ketergantungan selain kepada Allah.
  • Pertanggungjawaban Personal
    Meskipun konteksnya adalah Nabi Isa AS, inti pesannya adalah bahwa setiap jiwa akan bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya, apa yang dilakukannya, dan apa yang diimaninya.
  • Kejujuran di Hadapan Allah
    Nabi Isa AS menunjukkan kerendahan hati dan kejujuran tertinggi di hadapan Sang Pencipta. Ini adalah teladan bagi kita untuk senantiasa jujur di hadapan-Nya, mengakui kelemahan, dan berserah diri sepenuhnya.

Pada akhirnya, segala keputusan adalah hak Allah:

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 118)

Kedaulatan mutlak Allah terpancar jelas di sini. Ia berhak menghukum, dan berhak mengampuni, karena Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Ini adalah pengingat bahwa keputusan akhir ada di tangan-Nya, bukan di tangan makhluk.

Janji Allah bagi Orang yang Jujur dan Kekuasaan-Nya yang Mutlak

Kemudian, Surah Al-Ma’idah ditutup dengan janji kebahagiaan bagi mereka yang berpegang teguh pada kejujuran dan tauhid, serta penegasan kekuasaan Allah:

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗلَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Allah berfirman, “Inilah hari orang-orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 119)

Sebuah penutup yang indah, memberikan harapan dan motivasi. Setelah semua peringatan tentang pertanggungjawaban, dihidangkanlah janji bagi orang-orang yang jujur dalam iman dan perbuatan. Surga, keridaan Allah, dan kemenangan yang agung. Ini adalah tujuan akhir dari setiap seruan untuk kembali kepada-Nya.

Dan sebagai penutup dari keseluruhan surah, sebuah ayat yang menegaskan kembali siapa Penguasa Jagat Raya:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۗوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

(QS. Al-Ma’idah [5]: 120)

Semuanya kembali kepada-Nya. Kekuasaan, kepemilikan, dan kemampuan mutlak adalah milik Allah. Tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu berpulang pada Dzat Yang Maha Menguasai. Ini adalah seruan untuk meletakkan segala harapan dan ketakutan hanya kepada-Nya.

Sebuah Ajakan untuk Kembali

Akhir Surah Al-Ma’idah bukanlah sekadar penutup sebuah bab dalam Al-Qur’an. Ia adalah seruan keras namun lembut, pengingat yang begitu mendalam untuk kita semua. Seruan untuk menata ulang cara kita memandang hidup, prioritas kita, dan tujuan akhir kita. Setiap nafas, setiap langkah, setiap keputusan, akan diminta pertanggungjawabannya. Maka, mari kita kembali kepada Allah, dengan hati yang tulus, dengan iman yang murni, dan dengan amal yang ikhlas.

Pahami Al-Qur’an, renungkanlah maknanya, dan biarkan ia mengubah cara pandang kita. Karena hanya dengan kembali kepada petunjuk-Nya, kita akan menemukan kedamaian sejati dan kemenangan yang agung. Jika kita ingin merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan firman-Nya, memahami setiap isyarat yang Allah sampaikan, pintu Qur’an Learning Center Yogyakarta selalu terbuka untuk menemani perjalanan spiritual kita. Mari kita bersama-sama memperdalam ilmu Al-Qur’an, agar setiap akhir surah bukan hanya menjadi akhir bacaan, melainkan awal dari perubahan diri yang lebih baik.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,