Dalam samudra kehidupan yang penuh hiruk pikuk, seringkali kita merindukan oase ketenangan, sebuah jeda yang menyegarkan jiwa. Dan tiada oase yang lebih menenteramkan selain berinteraksi dengan Kalam Ilahi, Al-Qur’anul Karim. Namun, pernahkah kita merenungkan, seberapa agung interaksi kita saat menggaungkan ayat-ayat suci-Nya? Bukan sekadar membaca, tetapi memahami dan mengamalkan adabnya, khususnya terkait adab membaca Al-Qur’an tidak berbicara saat tilawah, menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengikis kekhusyukan.
Al-Qur’an bukanlah bacaan biasa; ia adalah pesan langsung dari Rabb semesta alam, petunjuk yang terang benderang bagi setiap insan yang beriman. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memperlakukannya dengan penghormatan tertinggi. Para ulama terdahulu telah mengajarkan adab yang mulia ini. Imam Al-Halimi, seorang cendekiawan agung, pernah menegaskan bahwa makruh hukumnya memutus bacaan Al-Qur’an untuk berbicara dengan orang lain. Beliau beralasan, karena Kalamullah tidak sepantasnya didahulukan atau disejajarkan dengan perkataan selain-Nya. Sebuah pandangan yang menukik tajam ke dalam hati, mengingatkan kita akan prioritas dan keagungan firman-Nya.
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-A’raf: 204)
Ayat mulia ini adalah landasan kuat bagi kita untuk senantiasa menjaga ketenangan dan fokus saat Al-Qur’an diperdengarkan, apalagi saat kita sendiri yang membacanya. Diam dan menyimak dengan saksama adalah wujud penghormatan, sebuah gerbang menuju rahmat Allah yang tak terhingga. Ketika kita membiasakan adab membaca Al-Qur’an tidak berbicara saat tilawah, kita sedang membangun jembatan komunikasi yang lebih intim dengan Sang Pencipta.
Menjaga Keheningan dan Fokus Saat Tilawah
Imam Al-Baihaqi, salah satu pakar hadis terkemuka, menguatkan pandangan Al-Halimi dengan sebuah riwayat shahih mengenai praktik Sayyidina Ibnu Umar, seorang sahabat Nabi yang sangat masyhur. Disebutkan bahwa Ibnu Umar, apabila telah mulai membaca Al-Qur’an, beliau tidak akan berbicara sama sekali hingga ia selesai dari bacaannya. Betapa luar biasa dedikasi dan penghormatan beliau terhadap Al-Qur’an! Ini menunjukkan bahwa kebiasaan menjaga lisan saat berinteraksi dengan Kalamullah bukanlah sekadar anjuran, melainkan telah menjadi teladan para salafush shalih.
Membiasakan adab membaca Al-Qur’an tidak berbicara saat tilawah memerlukan kesadaran dan disiplin diri yang tinggi. Kita hidup di era di mana gangguan datang dari berbagai arah; notifikasi ponsel yang berbunyi, percakapan di sekitar kita, atau bahkan sekadar pikiran yang melayang. Semua ini berpotensi merampas kekhusyukan kita. Oleh karena itu, saat kita memutuskan untuk membaca Al-Qur’an, alangkah baiknya kita mencari tempat yang tenang, mematikan notifikasi, dan mengkondisikan diri sepenuhnya untuk menerima pancaran hidayah-Nya.
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Artinya: “Atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.” (Q.S. Al-Muzzammil: 4)
Ayat ini mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, yaitu perlahan-lahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid. Tartil tidak hanya tentang lafal, tetapi juga tentang hati yang hadir, meresapi setiap makna. Mustahil tercapai tartil yang sempurna jika lisan kita masih disibukkan dengan percakapan, atau jika perhatian kita terpecah belah.
Menjauhi Tawa, Sendagurau, dan Pengalih Perhatian
Lebih lanjut, adab dalam tilawah Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada larangan berbicara. Para ulama juga memakruhkan untuk tertawa, bermain-main, atau melihat kepada sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian saat membaca Al-Qur’an. Ini adalah peringatan bagi kita untuk tidak meremehkan betapa sakralnya momen tersebut. Al-Qur’an adalah firman yang penuh hikmah dan pelajaran, bukan hiburan semata yang bisa diiringi sendagurau.
Tawa yang berlebihan atau sendagurau saat membaca Al-Qur’an dapat menghilangkan wibawa dan kekhidmatan kita. Demikian pula dengan mengalihkan pandangan kepada hal-hal yang tidak relevan. Mungkin awalnya hanya sekadar melirik sebentar, namun lama-kelamaan dapat membuat pikiran kita terbang ke mana-mana, tercerabut dari inti bacaan. Kita harus melatih diri untuk sepenuhnya fokus, menempatkan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pusat perhatian di saat itu.
Membangun kebiasaan adab membaca Al-Qur’an tidak berbicara saat tilawah, serta menghindari tawa dan gangguan, adalah investasi berharga bagi pertumbuhan spiritual kita. Ini bukan tentang aturan yang memberatkan, melainkan tentang upaya kita untuk meraih keberkahan dan hikmah yang lebih dalam dari setiap ayat yang kita baca. Semakin khusyuk dan fokus kita, semakin besar pula potensi hati kita untuk disentuh, digerakkan, dan diubah oleh cahaya Ilahi.
Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Bukan sekadar target khataman, melainkan kualitas dari setiap huruf yang terucap. Jadikan momen tilawah sebagai waktu istimewa, sebuah perjumpaan pribadi dengan Sang Khaliq. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan di lisan, tetapi menjadi nur yang menerangi setiap langkah kehidupan kita.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang mencintai dan menghormati Al-Qur’an dengan adab terbaik.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surah Al-A’raf: 204
- Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil: 4
- As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an.
