Kalamullah, Al-Qur’an, adalah cahaya dan penenang jiwa. Ketika lantunannya mengalun dalam shalat, ia membawa kedamaian yang tak terhingga. Namun, dalam semarak ibadah berjamaah, terkadang kita luput akan satu hal krusial: bagaimana lantunan suara kita dapat mempengaruhi kekhusyukan orang lain. Islam, dengan segala keindahan aturannya, telah mengajarkan kita tentang etika dan Adab Membaca Al-Qur’an dengan Suara di Shalat Agar Tidak Mengganggu.
Rasulullah ﷺ, sebagai teladan sempurna, telah membimbing umatnya dalam setiap aspek kehidupan, termasuk adab dalam beribadah. Salah satu petunjuk mulia yang beliau sampaikan terkait hal ini diriwayatkan oleh Imam Abu Ubaid, yang menjelaskan pentingnya menjaga ketenangan dalam lantunan Al-Qur’an saat shalat.
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مُطَرِّفٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ قَبْلَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَبَعْدَهَا، يُغَلِّطُ أَصْحَابَهُ
Abu Ubaid berkata, Malik bin Ismail menceritakan kepada kami, dari Khalid bin Abdillah, ia berkata, Mutharrif mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Al-Harits, dari Ali ‘alaihis salam, ia berkata: “Rasulullah ﷺ melarang seseorang mengeraskan suaranya dengan Al-Qur’an dalam shalat sebelum shalat Isya terakhir dan sesudahnya, sehingga ia mengganggu (membingungkan) teman-temannya.”
Hadits ini membuka cakrawala pemahaman kita tentang kepekaan Nabi ﷺ terhadap kondisi para sahabatnya. Larangan mengeraskan suara bacaan Al-Qur’an dalam shalat, khususnya di waktu-waktu yang disebutkan, bukanlah tanpa alasan. Ini adalah wujud kebijaksanaan dan kepedulian beliau agar ibadah semua jamaah dapat berlangsung dengan khusyuk tanpa ada yang merasa terganggu atau bahkan keliru dalam bacaannya.
Memahami Filosofi di Balik Adab Bersuara dalam Shalat
Ketika kita merenungkan hadits di atas, kita akan menemukan bahwa esensinya jauh melampaui sekadar volume suara. Ini berbicara tentang etika sosial dalam ibadah, tentang bagaimana setiap individu adalah bagian dari sebuah organisme yang lebih besar. Shalat berjamaah adalah manifestasi persatuan umat, di mana setiap gerakan dan bacaan idealnya mendukung kekhusyukan bersama, bukan justru menjadi penghalang.
Mengeraskan suara bacaan hingga membingungkan orang lain menunjukkan kurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Padahal, kekhusyukan adalah ruh shalat. Jika lantunan kita membuat jamaah lain terpecah konsentrasinya, kehilangan fokus, atau bahkan ragu dalam bacaan sendiri, maka kita telah tanpa sadar mengurangi kualitas ibadah mereka. Ini adalah pelanggaran terhadap Adab Membaca Al-Qur’an dengan Suara di Shalat Agar Tidak Mengganggu.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Q.S. Al-A’raf: 205)
Ayat ini semakin mempertegas pentingnya berdzikir dan beribadah dengan penuh kerendahan hati, termasuk dalam hal suara. Tidak mengeraskan suara adalah bagian dari tadharru’ (merendahkan diri) dan khifah (rasa takut) kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa ibadah adalah komunikasi personal dengan Sang Pencipta, yang tidak selalu memerlukan tampilan yang menonjol secara lahiriah jika itu berpotensi mengganggu orang lain.
Implementasi Praktis Adab Ini dalam Kehidupan Kita
Lalu, bagaimana kita mengaplikasikan prinsip Adab Membaca Al-Qur’an dengan Suara di Shalat Agar Tidak Mengganggu ini dalam kehidupan sehari-hari?
1. Kesadaran dan Empati Terhadap Lingkungan Sekitar
Sebelum kita memulai shalat atau membaca Al-Qur’an dengan suara, baik itu di masjid, mushalla, atau bahkan di rumah, luangkan sejenak untuk mengamati lingkungan sekitar. Apakah ada orang lain yang sedang shalat, berdzikir, belajar, atau beristirahat? Jika ya, maka volume suara kita perlu disesuaikan. Hendaknya suara kita tidak melebihi batas yang nyaman, apalagi sampai menimbulkan kebingungan bagi yang lain.
2. Prioritas Kekhusyukan Kolektif
Dalam shalat berjamaah, fokus utama adalah shalat itu sendiri. Jika kita sedang shalat sendiri di antara orang-orang yang juga shalat sendiri, kita tidak boleh beranggapan bahwa suara kita hanya urusan pribadi. Justru, sebagai bagian dari komunitas, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kekhusyukan bersama. Adab ini mengajarkan kita tentang keutamaan kepentingan bersama di atas keinginan individu untuk tampil atau menunjukkan hafalan.
3. Introspeksi Niat dan Tujuan
Membaca Al-Qur’an adalah amal yang sangat mulia. Namun, niat adalah penentunya. Apakah kita mengeraskan suara karena ingin memamerkan hafalan, atau memang karena ingin menguatkan diri sendiri tanpa menyadari dampaknya pada orang lain? Introspeksi ini penting untuk memastikan bahwa setiap amal kita murni karena Allah, dan dilaksanakan dengan cara yang paling disukai-Nya.
Hikmah dari hadits ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang lebih peka, tidak egois, dan senantiasa mendahulukan kemaslahatan bersama. Terutama bagi kita yang sedang dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an atau telah menjadi seorang hafizh, Adab Membaca Al-Qur’an dengan Suara di Shalat Agar Tidak Mengganggu adalah mahkota yang harus senantiasa tersemat. Hafalan yang indah harus diiringi dengan adab yang mulia. Ini bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang kita hafal, tetapi juga seberapa dalam kita memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dalam setiap gerak-gerik.
Marilah kita jadikan setiap ibadah kita sebagai wujud ketundukan paripurna, bukan hanya dalam ritualnya, tetapi juga dalam etika sosialnya. Membaca Al-Qur’an dengan adab yang benar akan meningkatkan kualitas ibadah kita dan juga menjaga keharmonisan di antara sesama muslim.
Untuk mendalami lebih jauh tentang Al-Qur’an dan menguasai adab-adabnya yang mulia, bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Kami hadir untuk membimbing Anda menjadi pribadi yang berakhlak Qur’ani dan siap menebar manfaat.
Daftar Referensi
- Kitab Fadhail Al-Qur’an Abu Ubaid, Bab Qari’ Yajhar ‘Ala Ashabih Bil-Qur’an Fayu’dzihim Bidzalik, hlm. 169.
- Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 205.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

