Kalamullah, firman suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, senantiasa membawa cahaya dan petunjuk bagi semesta. Interaksi kita dengan Al-Qur’an, baik dalam tilawah, hafalan, maupun penulisannya, mestilah dilandasi oleh sebuah kemuliaan dan keteladanan yang mendalam. Bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikatan spiritual yang menghadirkan keberkahan. Hadits yang terabadikan dalam Kitab Fadha’ilul Qur’an karya Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam mengisahkan sebuah nasihat penuh hikmah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kepada Abu Hukaimah Al-Abdi, seorang yang kala itu sibuk menulis mushaf. Nasihat tersebut bukan hanya tentang teknis menulis, namun menyingkap esensi adab memuliakan Al-Qur’an dalam setiap goresan tulisan.
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ شَدَّادٍ الْحَدِيدِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْعَبْدِيِّ، ⦗١٢٠⦘ عَنْ أَبِي حُكَيْمَةَ الْعَبْدِيِّ، قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ الْمَصَاحِفَ، فَبَيْنَمَا أَنَا أَكْتُبُ مُصْحَفًا، إِذْ مَرَّ بِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَقَامَ يَنْظُرُ إِلَى كِتَابِي فَقَالَ: «أَجْلِلْ قَلَمَكَ» . قَالَ: فَقَصَمْتُ مِنْ قَلَمِي قَصَمَةً ثُمَّ جَعَلْتُ أَكْتُبُ. فَقَالَ: «هَكَذَا نَوِّرْهُ كَمَا نَوَّرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»
Diriwayatkan dari Abu Ubaid, Hajjaj menceritakan dari Abdul Malik bin Syaddad Al-Hadidi, dari Ubaidullah bin Sulaiman Al-Abdi, dari Abu Hukaimah Al-Abdi, ia berkata: “Aku dahulu adalah penulis mushaf. Ketika aku sedang menulis mushaf, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib lewat di sampingku. Beliau lalu berdiri dan melihat tulisanku, kemudian berkata: ‘Tajamkanlah penamu.’ Maka aku pun mematahkan sedikit ujung penaku, lalu aku mulai menulis lagi. Beliau kemudian berkata: ‘Demikianlah, terangilah ia sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah meneranginya.’”
Menajamkan Pena: Wujud Adab Memuliakan Al-Qur’an dalam Setiap Goresan Tulisan
Perintah Sayyidina Ali, “Tajamkanlah penamu,” bukan sekadar arahan teknis tentang alat tulis. Ini adalah filosofi yang mengajarkan kita tentang pentingnya persiapan matang, ketelitian, dan kesempurnaan dalam setiap langkah yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Bayangkan, pena yang tumpul akan menghasilkan tulisan yang kabur, sulit dibaca, dan tidak indah. Begitu pula dalam interaksi kita dengan firman Allah:
- Persiapan Fisik dan Mental: Sebelum memulai tilawah, hafalan, apalagi menulis Al-Qur’an, hendaknya kita dalam kondisi terbaik. Berwudhu, membersihkan diri, mengenakan pakaian yang pantas, serta menata hati untuk fokus dan khusyuk. Ini adalah bentuk penajaman “pena” spiritual kita.
- Ketelitian dan Akurasi: Menajamkan pena berarti memastikan setiap huruf, harakat, dan tanda baca tertulis dengan jelas, benar, dan sesuai kaidah. Kesalahan penulisan atau pembacaan Al-Qur’an adalah hal yang sangat fatal. Kita diajarkan untuk tidak main-main dengan Kalamullah, melainkan memberikannya hak kesempurnaan.
- Kualitas Terbaik: Adab memuliakan Al-Qur’an menuntut kita untuk memberikan yang terbaik. Jika kita adalah seorang penghafal, berusahalah menghafal dengan mutu terbaik. Jika kita seorang pengajar, sampaikanlah ilmu Al-Qur’an dengan metode yang paling efektif dan penjelasan yang paling terang. Setiap usaha kita untuk mempersembahkan yang terbaik, adalah bagian dari menajamkan “pena” kita di hadapan Allah.
Menerangi Kalam Ilahi: Esensi Adab Memuliakan Al-Qur’an dalam Setiap Goresan Tulisan
Setelah perintah menajamkan pena, Sayyidina Ali melanjutkan dengan nasihat yang lebih mendalam, “Demikianlah, terangilah ia sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah meneranginya.” Ini adalah puncak dari adab memuliakan Al-Qur’an dalam setiap goresan tulisan, melampaui aspek teknis dan menyentuh dimensi spiritual dan keindahan ilahiah.
Al-Qur’an adalah nur, cahaya yang menerangi kegelapan. Maka, tulisan yang mewakili firman-Nya seharusnya juga memancarkan cahaya tersebut. Bagaimana kita bisa “menerangi” Al-Qur’an?
- Keindahan Estetika: Pena yang tajam akan menghasilkan tulisan kaligrafi yang indah, rapi, dan menawan. Keindahan visual ini adalah cerminan dari keagungan makna di baliknya. Ini mengajarkan kita untuk menghargai seni dan estetika dalam penyajian Al-Qur’an, menjadikannya menyenangkan untuk dilihat dan dibaca.
- Kejelasan Makna dan Penyampaian: “Menerangi” juga berarti membuat makna Al-Qur’an menjadi jelas dan mudah dipahami. Bagi seorang penulis, ini adalah tentang memastikan huruf-hurufnya tidak samar. Bagi seorang penghafal, ini adalah tentang melafalkan dengan tajwid yang benar dan makhraj yang fasih. Bagi seorang pengajar, ini adalah tentang menjelaskan tafsir dan hikmah Al-Qur’an dengan cara yang mencerahkan hati dan pikiran.
- Menghadirkan Cahaya dalam Hati: Puncak dari “menerangi Al-Qur’an” adalah ketika firman-Nya tidak hanya indah di mata atau terdengar merdu di telinga, tetapi juga mencerahkan hati dan jiwa pembacanya. Ini adalah buah dari keikhlasan, tadabbur, dan pengamalan. Ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan adab yang sempurna, maka cahaya Al-Qur’an akan terpancar dalam diri kita, pada amal kita, dan pada lingkungan sekitar kita. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 77-79)
Menghidupkan Adab Al-Qur’an dalam Kehidupan Kita
Kisah singkat ini adalah pelajaran universal bagi kita semua yang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Baik kita seorang penghafal, pembaca, pengajar, atau bahkan pendengar, adab memuliakan Al-Qur’an dalam setiap goresan tulisan (atau setiap lantunan lisan) menjadi sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar.
- Untuk Para Penghafal: Pastikan hafalan kita rapi, akurat, dan terus-menerus dimurojaah. Berikan yang terbaik dari waktu dan fokus kita untuk menjaga kemuliaan hafalan.
- Untuk Para Pembaca: Bacalah Al-Qur’an dengan tartil, tajwid yang benar, dan berusaha memahami maknanya. Jangan tergesa-gesa, nikmati setiap ayatnya seolah ia sedang berbicara langsung kepada kita.
- Untuk Para Pengajar: Sampaikanlah ilmu Al-Qur’an dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan metode yang terbaik. Jadikan diri kita cerminan adab Al-Qur’an sehingga murid-murid terinspirasi untuk turut memuliakannya.
- Untuk Setiap Muslim: Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, mengamalkan ajaran-ajarannya, dan menjadikannya sebagai akhlak adalah bentuk termulia dari “menerangi Al-Qur’an” dalam kehidupan nyata. Ini adalah buah dari pemuliaan kita terhadap Kitabullah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadits ini secara tidak langsung menegaskan bahwa pembelajaran dan pengajaran Al-Qur’an adalah sebuah amal mulia yang harus dilakukan dengan adab dan kualitas terbaik, sehingga Al-Qur’an tetap memancarkan cahayanya di tengah umat.
Adab adalah mahkota bagi seorang muslim, terutama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mari kita renungkan, apakah pena kita telah tajam? Apakah tulisan dan interaksi kita dengan Al-Qur’an telah memancarkan cahaya yang diberikan Allah Azza wa Jalla? Semoga kita senantiasa termasuk golongan yang memuliakan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan, dan menjadikan setiap goresan serta lantunan firman-Nya sebagai sumber cahaya dan keberkahan yang tak terhingga.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center YogyakartaInformasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadha’ilul Qur’an. Bab Ma Yustahabbu li Hamili Al-Qur’an min Ikramil Qur’an wa Ta’dzimihi wa Tanzihi. hlm. 119.
- Al-Qur’an. Surah Al-Waqi’ah: 77-79.
- Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari. Kitab Fadha’ilil Qur’an. Bab Khairukum Man Ta’allamal Qur’ana wa ‘Allamahu. No. 5027.
