Memuliakan Kalam-Nya: Adab Menyentuh dan Menulis Al-Quran
Sebuah lembar ijazah berharga, kita bingkai dengan pigura terindah. Sebuah gawai keluaran terbaru, kita lindungi dengan pelindung layar dan casing terbaik. Kita menjaganya, mengangkatnya dengan hati-hati, dan meletakkannya di tempat yang aman. Lantas, bagaimana perlakuan kita terhadap lembaran-lembaran yang berisi Kalam Allah, firman yang menjadi cahaya bagi semesta? Sudahkah kita memberinya penghormatan tertinggi? Mari kita selami kembali pesan agung tentang adab menyentuh dan menulis Al-Quran yang diwariskan kepada kita.
Imam Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadha’il al-Qur’an, merekam jejak-jejak adab ini dari generasi terbaik. Riwayat-riwayat ini bukan sekadar aturan, melainkan getaran iman yang menunjukkan betapa para salaf begitu mengagungkan setiap huruf dari Al-Quran.
Fondasi Kesucian: Menulis di Atas Media yang Suci
Pesan pertama datang melalui seorang tokoh agung, Umar bin Abdul Aziz, yang menisbatkan sebuah sabda kepada Rasulullah ﷺ. Pesan ini menyentuh aspek paling fundamental dalam interaksi kita dengan mushaf: media tempat Kalam Ilahi dituliskan. Ini adalah fondasi utama dari adab menyentuh dan menulis Al-Quran.
«لَا تَكْتُبُوا الْقُرْآنَ إِلَّا فِي شَيْءٍ طَاهِرٍ»
“Janganlah kalian menulis Al-Quran kecuali pada sesuatu yang suci.”
Arahan ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan Al-Quran harus dimulai bahkan sebelum tintanya ditorehkan. Media yang digunakan—apakah itu kertas, kulit, atau papan—haruslah dalam keadaan bersih dan suci. Ini bukan sekadar tentang kebersihan fisik, tetapi sebuah simbol bahwa firman Allah yang Mahasuci hanya layak berada pada tempat yang suci pula. Ini adalah bentuk pengagungan kita yang pertama.
Menjaga Martabat: Meletakkan pada Tempat yang Terhormat
Lebih jauh, Umar bin Abdul Aziz memberikan nasihat praktis yang lahir dari pemahaman mendalam tentang kemuliaan Al-Quran. Beliau memperingatkan agar kita tidak merendahkan martabatnya dengan meletakkannya di tempat yang hina atau berpotensi terinjak.
«لَا تَكْتُبُوا الْقُرْآنَ حَيْثُ يُوطَأُ»
“Janganlah kalian menulis Al-Quran di tempat yang biasa diinjak-injak.”
Larangan ini, meski secara spesifik menyebut “menulis”, memiliki makna yang lebih luas: jangan sampai Al-Quran berada di lantai atau tempat rendah yang rentan terlangkahi atau terinjak. Dari sinilah para ulama mengajarkan kita untuk meletakkan mushaf di tempat yang lebih tinggi dan terhormat. Perlakuan ini adalah cerminan posisi Al-Quran di dalam hati kita: tinggi, mulia, dan terjaga.
Sentuhan Suci: Syarat Utama Menyentuh Kalamullah
Puncak dari penghormatan fisik terhadap Al-Quran terangkum dalam sebuah riwayat agung yang menjadi pedoman utama bagi umat Islam. Sebuah pesan yang dituliskan langsung oleh tangan mulia Rasulullah ﷺ.
«لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ»
“Janganlah menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.”
Kata ‘ṭāhir’ (suci) di sini dipahami oleh mayoritas ulama sebagai suci dari hadas kecil dan hadas besar. Maka, berwudhu sebelum menyentuh mushaf bukanlah sekadar ritual, melainkan sebuah pernyataan batin. Ia adalah persiapan jiwa, sebuah cara kita mengatakan, “Ya Allah, hamba datang menghadap firman-Mu dalam keadaan terbaik yang hamba bisa.” Inilah adab tertinggi, di mana kesucian fisik menjadi jembatan untuk meraih kesucian pesan-pesan di dalamnya. Inilah esensi sejati dari adab menyentuh dan menulis Al-Quran.
Dari Adab Fisik Menuju Kemuliaan Batin
Ketiga pesan ini saling merangkai sebuah pelajaran indah: memuliakan Al-Quran adalah sebuah kesatuan antara lahir dan batin. Menjaganya di tempat yang suci, meletakkannya di posisi yang mulia, dan menyentuhnya dalam keadaan bersuci adalah manifestasi dari pengagungan hati kita terhadap Sang Pemilik Kalam.
Memahami dan mengamalkan adab menyentuh dan menulis Al-Quran ini adalah langkah awal untuk membuka pintu-pintu keberkahannya. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa menyerap cahaya petunjuknya jika kita abai terhadap adab dalam memperlakukan wujud fisiknya? Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa menjadi ahlul Qur’an, yang tidak hanya fasih melantunkan, tetapi juga terdepan dalam memuliakan setiap lembarannya.
Bagi jiwa-jiwa yang rindu untuk mendalami Al-Quran secara lebih intensif, baik dalam hafalan maupun pemahaman adabnya, pintu untuk belajar senantiasa terbuka. Mari bersama-sama menapaki jalan kemuliaan ini di lingkungan yang mendukung dan dibimbing oleh para ahli.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk.). Damaskus: Dar Ibn Kathir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

