Urgensi Adab dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Al-Zarnuji

Dalam tradisi pendidikan Islam yang luhur, kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan seorang penuntut ilmu. Ada aspek fundamental yang jauh lebih utama dan menjadi fondasi utama keberkahan, yaitu adab. Salah satu literatur paling ikonik dan melegenda yang membahas tuntas mengenai hal ini adalah kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq at-Ta’allum karya seorang ulama besar, Syekh Burhanul Islam Al-Zarnuji. Beliau menyusun kitab ini sebagai respons atas fenomena banyak pelajar yang bersungguh-sungguh mencari ilmu namun tidak mendapatkan manfaat dan keberkahan dari ilmu tersebut karena mengabaikan tata krama atau jalan yang benar.

Mempelajari adab menuntut ilmu melalui kacamata Al-Zarnuji membawa kita pada pemahaman bahwa ilmu adalah cahaya suci dari Allah. Cahaya tersebut tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor atau melalui proses yang serampangan. Sebagaimana para ulama terdahulu sering berpesan, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Hal ini dikarenakan dengan adab, seseorang akan lebih mudah memahami ilmu, dan ilmu tersebut akan membimbingnya menuju ketakwaan. Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Quran dengan landasan adab yang benar, silakan kunjungi Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran untuk memulai perjalanan spiritual Anda.

Esensi dan Filosofi Menuntut Ilmu menurut Al-Zarnuji

Ditulis sekitar abad ke-13, kitab Ta’lim al-Muta’allim bukan sekadar panduan belajar teknis yang bersifat kognitif, melainkan sebuah manifestasi spiritual tentang bagaimana ilmu seharusnya diperoleh dan diamalkan. Al-Zarnuji menekankan bahwa ilmu adalah anugerah yang hanya akan menetap pada mereka yang memiliki niat tulus dan penghormatan tinggi terhadap sumber ilmu tersebut. Beliau menggarisbawahi bahwa tujuan utama belajar adalah untuk mencari ridha Allah, menghidupkan agama, dan menghilangkan kebodohan pada diri sendiri serta orang lain.

مَا مَنَعَ اللَّهَ أَنْ يُعْطِيَكَ إِلَّا لِتَعْظِيمِكَ لَهُ ، وَمَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَّا بِالْحُرْمَةِ ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَّا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ

“Tidaklah seseorang mencapai keberhasilan (dalam ilmu) kecuali dengan penghormatan, dan tidaklah seseorang jatuh (gagal) kecuali karena meninggalkan penghormatan (adab).”

Prinsip ini sangat relevan jika kita melihat sejarah para sahabat Nabi dan tabi’in. Mereka adalah generasi yang paling memuliakan Al-Quran dan para pengajarnya. Dalam pandangan Al-Zarnuji, memuliakan guru dan memuliakan kitab adalah syarat mutlak. Seseorang tidak boleh duduk terlalu dekat dengan guru tanpa izin, tidak boleh memotong pembicaraan, dan harus menjaga kesucian fisik (berwudhu) saat memegang kitab-kitab ilmu agama.

Pilar Utama Penuntut Ilmu: Niat, Guru, dan Teman

Berdasarkan edisi cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah (2004), kitab ini merumuskan beberapa pilar penting yang harus dimiliki oleh setiap pelajar agar sukses dunia dan akhirat. Pilar pertama adalah Niat yang Benar. Al-Zarnuji mengingatkan dengan keras agar belajar bukan untuk mencari popularitas, kedudukan, atau harta duniawi, melainkan untuk mensyukuri nikmat akal yang telah diberikan Allah SWT serta demi melestarikan nilai-nilai agama di muka bumi.

Pilar kedua adalah ketelitian dalam Memilih Guru dan Teman. Syekh Al-Zarnuji menyarankan agar pelajar mencari guru yang paling alim, paling warak (menjaga diri dari syubhat dan dosa), dan paling tua usianya atau berpengalaman. Beliau mengisahkan bagaimana Imam Abu Hanifah sangat selektif dalam memilih guru hingga beliau menemukan kemantapan hati pada diri Hammad bin Abi Sulaiman. Selain guru, lingkungan pergaulan juga sangat menentukan. Penuntut ilmu harus menjauhi teman yang malas, banyak bicara sia-sia, dan yang suka bermaksiat, karena karakter seseorang sangat mudah tertular oleh karakter teman dekatnya.

Pilar ketiga adalah Ketekunan dan Kesabaran (Istiqamah). Ilmu tidak didapatkan secara instan melalui metode kilat, melainkan melalui proses pengorbanan waktu dan tenaga. Dalam kitab ini disebutkan sebuah syi’ir yang sangat masyhur mengenai syarat mencari ilmu, yaitu: kecerdasan, ketamakan (semangat), kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama. Tanpa kesabaran menghadapi kesulitan belajar, seseorang tidak akan pernah merasakan manisnya pemahaman agama.

Kisah Keteladanan Ulama dalam Memuliakan Ilmu

Relevansi kitab ini diperkuat dengan berbagai kisah ulama salaf yang sangat populer. Salah satunya adalah kisah Imam Syafi’i yang sangat berhati-hati saat membuka lembaran kertas di hadapan gurunya, Imam Malik, agar suara gesekan kertas tidak terdengar dan mengganggu sang guru. Begitu pula kisah Khalifah Harun Al-Rasyid yang mengirim putranya untuk belajar kepada Imam Al-Ashma’i. Sang Khalifah justru menegur Imam Al-Ashma’i bukan karena anaknya diajari dengan keras, melainkan karena sang anak hanya menuangkan air ke kaki gurunya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tidak membantu menggosok kaki sang guru. Sang Khalifah ingin anaknya benar-benar berkhidmat secara total kepada gurunya demi keberkahan ilmu.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa para pendahulu kita sangat menyadari bahwa ilmu adalah warisan Nabi. Maka, memperlakukannya dengan penuh ta’dzim (penghormatan) adalah kewajiban. Penulis Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu yang tidak menghormati gurunya, meskipun ia sangat cerdas, ilmunya tidak akan memberikan manfaat bagi umat dan tidak akan membawanya pada kebahagiaan hakiki.

Relevansi Kontemporer dan Implementasi Masa Kini

Meski telah berusia berabad-abad, Ta’lim al-Muta’allim tetap menjadi kurikulum wajib di berbagai pesantren di Indonesia dan lembaga pendidikan Islam internasional. Di tengah gempuran informasi digital yang serba cepat dan instan, di mana akses terhadap buku dan ceramah begitu mudah, pesan Al-Zarnuji menjadi pengingat yang sangat tajam. Saat ini, banyak orang memiliki data dan informasi yang melimpah, namun kehilangan ruh ilmu karena hilangnya adab kepada guru dan sumber ilmu itu sendiri.

Pesan Al-Zarnuji mengingatkan kita kembali bahwa esensi belajar adalah pembentukan karakter dan moralitas, bukan sekadar pengumpulan data mentah. Memuliakan Al-Quran sebagai kalamullah bukan hanya dengan menghafalnya, tetapi dengan menjaga sikap saat membacanya, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menghormati para penjaga wahyu tersebut. Mari kita kembalikan marwah pendidikan Islam dengan menjunjung tinggi adab di atas segalanya.

Penutup

Semoga Allah memberikan taufik agar kita senantiasa menghiasi ilmu dengan adab yang mulia. Ya Allah, mudahkanlah kami memahami agama-Mu dan berilah keberkahan atas ilmu kami. Amin.


Referensi:

Al-Zarnuji, Burhan al-Din. Ta’lim al-Muta’allim Tariq at-Ta’allum. Di-tahqiq oleh Mustafa ‘Asyur. Kairo: Maktabah al-Adab, 2004.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam. Bandung: Mizan, 1984.

An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran. Beirut: Dar al-Minhaj, 2005.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,