Dalam setiap lembar Al-Qur’an, tersimpanlah mutiara hikmah yang tak pernah habis. Kitab suci ini bukan sekadar kumpulan ayat, melainkan panduan hidup yang sempurna, yang menuntut kita untuk berinteraksi dengannya dengan penuh penghormatan dan pemahaman. Salah satu dimensi penting dari interaksi ini adalah bagaimana kita menyikapi bacaan Al-Qur’an, khususnya perihal menuntaskan surah. Ini bukan hanya tentang memenuhi formalitas, tetapi tentang membangun kedalaman spiritual dan menjaga adab yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ serta para sahabatnya.
Mari kita selami lebih dalam tentang pentingnya adab membaca Al-Qur’an menyelesaikan surah. Pemahaman ini akan membawa kita pada kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan Kalamullah, menjaga keberkahannya, dan menghindari kekeliruan yang mungkin tak kita sadari.
Mengapa Menuntaskan Surah Adalah Bagian dari Adab?
Ketika kita memulai sebuah surah, kita sedang memasuki sebuah “ruangan” makna yang utuh, sebuah narasi atau tema yang Allah sampaikan secara menyeluruh. Meninggalkan surah tersebut di tengah jalan, kemudian beralih ke surah lain secara acak, sering kali diibaratkan seperti membaca buku dengan melompati bab-babnya. Kita kehilangan konteks, keutuhan pesan, dan keindahan alur yang telah disusun dengan sempurna.
Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan petunjuk yang jelas mengenai hal ini. Abu Ubaid meriwayatkan dari Umar Maula Ghufrata bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal:
“إِذَا قَرَأْتَ السُّورَةَ فَأَنْفِذْهَا.”
Yang artinya, “Jika engkau membaca sebuah surah, maka tuntaskanlah.” Ini adalah perintah lugas yang menekankan pentingnya menyelesaikan apa yang telah dimulai. Petunjuk ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah penekanan untuk menghormati struktur dan kesatuan Al-Qur’an.
Peringatan dari Para Salaf tentang Memutus Bacaan
Para ulama salafus shalih juga sangat memperhatikan adab membaca Al-Qur’an menyelesaikan surah. Sebuah riwayat dari Mu’adz, dari Ibnu Aun, menjelaskan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Sirin tentang seorang laki-laki yang membaca dua ayat dari sebuah surah, lalu meninggalkannya dan beralih ke surah lain. Ibnu Sirin menjawab dengan sebuah peringatan keras:
“لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْثَمَ إِثْمًا كَبِيرًا وَهُوَ لَا يَشْعُرُ.”
Artinya, “Hendaklah salah seorang di antara kalian berhati-hati agar tidak terjerumus dalam dosa besar padahal ia tidak menyadarinya.” Betapa dalam peringatan ini. Mungkin kita menganggapnya remeh, namun di mata para ulama yang memahami kemuliaan Kalamullah, perilaku seperti ini bisa berujung pada dosa besar karena kurangnya penghormatan.
Bahkan, Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat yang paling memahami Al-Qur’an, memberikan panduan praktis. Beliau berkata: “Jika engkau memulai suatu surah dan engkau ingin beralih ke surah lain, maka beralihlah ke surah Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas). Dan jika engkau memulai surah tersebut, maka janganlah engkau berpindah darinya sampai engkau menyelesaikannya.” Ini menunjukkan bahwa Surah Al-Ikhlas memiliki kekhususan sebagai surah penutup yang ringkas dan sempurna, jika memang ada urgensi untuk mengakhiri bacaan.
Para ulama juga membenci praktik membaca sebagian ayat dan meninggalkan sebagian lainnya. Abu Ubaid menegaskan bahwa ketidaksukaan terhadap membaca ayat-ayat yang berbeda tanpa menyelesaikan surahnya adalah hal yang berlaku secara umum di kalangan mereka, sebagaimana Rasulullah ﷺ menegur Bilal dan Ibnu Sirin membencinya. Ini semakin menguatkan pentingnya adab membaca Al-Qur’an menyelesaikan surah dalam praktik kita sehari-hari.
Memupuk Kekhusyukan dan Tadabbur
Menyelesaikan surah bukan hanya tentang memenuhi perintah, tetapi juga tentang memupuk kekhusyukan dan memungkinkan terjadinya *tadabbur* atau perenungan mendalam. Ketika kita memotong-motong bacaan, pikiran kita cenderung terpecah dan sulit untuk menyelami makna secara utuh. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Yang artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)
Ayat ini mengajak kita untuk merenungi Al-Qur’an, bukan sekadar membacanya. Tadabbur akan sulit tercapai jika kita sering berpindah-pindah tanpa menuntaskan satu kesatuan makna. Dengan mempraktikkan adab membaca Al-Qur’an menyelesaikan surah, kita melatih diri untuk fokus, sabar, dan menghargai setiap untaian firman Allah. Ini adalah jalan menuju hati yang terbuka dan jiwa yang tercerahkan.
Praktik ini juga melatih disiplin spiritual. Dalam kesibukan dunia, seringkali kita terburu-buru dalam beribadah. Namun, Al-Qur’an menuntut waktu dan perhatian penuh kita. Dengan berkomitmen untuk menuntaskan surah yang dimulai, kita membangun kebiasaan baik yang akan menumbuhkan rasa hormat yang lebih besar terhadap Kalamullah dan semua bentuk ibadah lainnya.
Refleksi untuk Pembaca Al-Qur’an
Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika waktu kita terbatas, lebih baik membaca satu atau dua surah pendek secara utuh daripada membaca bagian-bagian dari banyak surah. Pilih satu surah, fokuslah padanya, dan selesaikanlah. Dengan demikian, kita tidak hanya mendapatkan pahala membaca, tetapi juga pahala dari menjaga adab dan penghormatan terhadap Kalamullah.
Menuntaskan surah adalah bentuk pemuliaan terhadap firman Allah, sebuah tindakan yang menunjukkan kesungguhan hati dan keinginan kita untuk mengambil pelajaran secara menyeluruh. Ini adalah bagian dari perjalanan kita untuk menjadi hamba yang lebih baik, yang senantiasa menjaga hubungan istimewa dengan Kitabullah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam memahami dan mengamalkan adab membaca Al-Qur’an menyelesaikan surah.
Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an, mempelajari tahsin, tahfizh, dan memahami adab-adabnya secara lebih komprehensif, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk membimbing perjalanan spiritual Anda. Dengan metode yang teruji dan suasana yang kondusif, Anda akan merasakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang berbeda, membentuk pribadi Qur’ani yang utuh dan berakhlak mulia. Bergabunglah bersama kami untuk meraih keberkahan Al-Qur’an dalam hidup Anda.
Daftar Referensi
- As-Suyuti, Jalaluddin. *Al-Itqan fi Ulumil Qur’an*. Edisi Muhammad Abu Fadhl Ibrahim. Kairo: Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Ammah lil Kitab, 1394 H/1974 M. Jilid 4, halaman 211.
- Al-Qur’an Surah Muhammad: 24.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

