Coba kita sejenak berhenti dan merenung di hadapan rak buku pribadi kita. Di sana, berjajar rapi berbagai judul yang kita kumpulkan. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah susunannya sudah mencerminkan hierarki ilmu dan prioritas dalam jiwa kita? Ini bukan sekadar tentang estetika, melainkan sebuah refleksi iman yang sering terlupakan. Mari kita gali lebih dalam sebuah permata terpendam dari khazanah para ulama, yaitu tentang adab meletakkan buku sesuai tingkat kemuliaannya.
Mengapa Cara Kita Memperlakukan Buku Begitu Penting?
Dalam tradisi keilmuan Islam, buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi teks. Ia adalah bejana yang menampung cahaya ilmu, warisan para nabi, dan petunjuk dari Sang Pencipta. Maka, cara kita berinteraksi dengannya—mulai dari membacanya hingga meletakkannya—merupakan cerminan dari pengagungan (ta’zhim) kita terhadap ilmu itu sendiri. Mengabaikannya di lantai, menumpuknya secara sembarangan, atau menyimpannya di tempat yang tak layak adalah isyarat betapa rendahnya kita memandang nilai petunjuk di dalamnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita bahwa pengagungan terhadap simbol-simbol-Nya adalah buah dari ketakwaan hati. Mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab hadits, dan karya para ulama yang menjelaskan keduanya, tidak diragukan lagi, termasuk dalam simbol-simbol suci tersebut.
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32).
Ketakwaan bukanlah konsep abstrak yang hanya bersemayam di hati. Ia mewujud dalam tindakan nyata, bahkan dalam hal yang tampak sepele seperti cara kita menata koleksi buku kita.
Prinsip Dasar: Dari Fisik Hingga Hierarki Kemuliaan
Para ulama terdahulu, seperti yang dinukil dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, telah memberikan panduan yang sangat rinci. Panduan ini dapat kita bagi menjadi dua aspek utama: penjagaan fisik dan penataan berdasarkan kemuliaan.
Menjaga Kehormatan Fisik Buku
Sebelum berbicara urutan, adab pertama adalah memastikan setiap buku terjaga kehormatannya secara fisik. Para salaf mengajarkan untuk tidak meletakkan kitab langsung di atas tanah atau lantai. Sebaiknya, gunakan penyangga, kursi (rehal), atau letakkan di atas rak yang ditinggikan dari permukaan tanah. Tujuannya bukan hanya untuk mencegah kerusakan akibat kelembapan, tetapi sebagai bentuk simbolik bahwa ilmu harus senantiasa berada di tempat yang tinggi dan mulia.
Memahami Adab Meletakkan Buku Sesuai Tingkat Kemuliaannya
Inilah inti dari pembahasan kita. Penataan buku bukanlah soal selera, melainkan soal adab yang berakar pada pemahaman sumber ilmu dalam Islam. Praktik adab meletakkan buku sesuai tingkat kemuliaannya ini adalah latihan spiritual harian untuk menegaskan kembali prioritas hidup kita. Urutannya adalah sebagai berikut:
- Mushaf Al-Qur’an: Wajib berada di posisi paling atas, paling mulia, dan tak tertandingi. Para ulama bahkan menyarankan untuk meletakkannya di tempat khusus, seperti dalam kantong kain yang digantung di dinding yang bersih, di bagian depan ruangan yang terhormat.
- Kitab-kitab Hadits Shahih: Setelah Kalamullah, datanglah sabda Rasulullah ﷺ. Kitab seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kutubus sittah lainnya menempati urutan kedua.
- Kitab Tafsir Al-Qur’an: Penjelasan atas firman Allah.
- Kitab Syarah (Penjelasan) Hadits: Penjelasan atas sabda Nabi.
- Kitab Ushuluddin (Aqidah): Ilmu tentang pokok-pokok keimanan.
- Kitab Ushul Fiqh: Ilmu tentang metodologi pengambilan hukum.
- Ilmu Bahasa Arab (Nahwu & Sharaf): Kunci untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Disiplin Ilmu Lainnya: Seperti syair Arab dan ilmu-ilmu penunjang lainnya.
Dengan menerapkan hierarki ini, rak buku kita bukan lagi sekadar perabot, melainkan sebuah peta visual yang memandu kita menuju sumber kebenaran yang paling hakiki.
Ketika Dua Kitab Setara: Kaidah Tambahan dalam Adab
Bagaimana jika ada dua kitab dalam kategori yang sama, misalnya dua kitab tafsir? Para ulama kita, dengan ketelitiannya yang luar biasa, memberikan kaidah tambahan. Ini menunjukkan betapa dalamnya penghormatan mereka terhadap ilmu. Prioritas diberikan kepada:
- Kitab yang memuat lebih banyak kutipan Al-Qur’an atau hadits.
- Jika masih setara, lihatlah kemuliaan dan kesalehan penulisnya.
- Jika masih setara, dahulukan yang lebih tua penulisannya dan lebih masyhur di kalangan ulama.
- Jika semua aspek itu setara, utamakan yang paling shahih (valid) isinya.
Kaidah ini mengajarkan kita bahwa memuliakan ilmu berarti menghargai setiap detail yang menyertainya, mulai dari sumber, penulis, hingga validitasnya. Inilah esensi dari mengamalkan adab meletakkan buku sesuai tingkat kemuliaannya.
Bukan Sekadar Rak, Tapi Cerminan Hati di Era Digital
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana relevansinya di era digital saat buku-buku kita tersimpan dalam format PDF di laptop atau aplikasi di ponsel? Prinsipnya tetap sama, meski mediumnya berbeda. Adab meletakkan buku sesuai tingkat kemuliaannya bertransformasi menjadi adab memprioritaskan perhatian dan waktu kita.
File mana yang kita letakkan di folder utama? Aplikasi apa yang berada di halaman depan ponsel kita? Bacaan apa yang kita buka pertama kali saat memulai hari? Apakah aplikasi Al-Qur’an ataukah media sosial? Sebelum menyelami lautan informasi di internet, sudahkah kita menyapa Kalamullah dan sabda Rasul-Nya terlebih dahulu? Keutamaan Kalamullah di atas segala ucapan lainnya seharusnya menjadi pengingat abadi bagi kita.
فَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ
Artinya: “Keutamaan kalam Allah di atas seluruh kalam (ucapan) adalah seperti keutamaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya.” (HR. Tirmidzi).
Menata folder digital dan prioritas bacaan harian kita adalah bentuk modern dari implementasi adab meletakkan buku sesuai tingkat kemuliaannya. Ini adalah pertarungan adab yang terjadi di dalam hati dan pikiran kita setiap saat.
Kesimpulan: Menata Rak, Menata Jiwa
Pada akhirnya, menata buku sesuai tingkat kemuliaannya jauh melampaui urusan kerapian fisik. Ia adalah sebuah latihan batin untuk terus-menerus meluruskan kompas hati kita agar selalu tertuju pada sumber petunjuk yang paling agung: Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Saat kita meletakkan Mushaf di tempat tertinggi, kita sedang menegaskan kepada diri sendiri bahwa tidak ada perkataan yang lebih tinggi dan lebih benar daripada firman-Nya.
Mari kita mulai dari langkah kecil. Pandangilah kembali rak buku kita, baik yang nyata maupun yang maya. Sudahkah ia menjadi cerminan jiwa yang mengagungkan ilmu dan memuliakan sumbernya? Dengan menata ulang rak buku, semoga kita juga sedang menata ulang prioritas dan menata kembali jiwa kita.
Semoga setiap interaksi kita dengan ilmu, sekecil apa pun, menjadi pemberat timbangan amal dan bukti ketakwaan kita di hadapan Allah kelak. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Langkah awal untuk memuliakan Al-Qur’an adalah dengan membersamai dan menghafalkannya. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap mendampingi perjalanan Anda untuk lebih dekat dengan Kalamullah melalui metode yang teruji dan lingkungan yang mendukung.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Hajj: 32
- Hadits Riwayat At-Tirmidzi
- Al-Husain bin Al-Mansur Billah Al-Qasim bin Muhammad. (w. 1050 H). Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


