Ilmu sering diibaratkan sebagai cahaya, sementara hati kita adalah wadahnya. Secemerlang apa pun cahaya itu, ia tak akan bersinar sempurna jika wadahnya kotor dan kusam. Inilah mengapa para ulama salaf lebih mendahulukan belajar adab sebelum menyelami lautan ilmu. Sebab, adab adalah pembersih wadah hati, yang menjadikan ilmu tidak hanya melekat di akal, tetapi juga meresap menjadi berkah dan cahaya dalam kehidupan. Perjalanan menuntut ilmu adalah sebuah proses penyucian jiwa, di mana etika dan akhlak menjadi pondasi utamanya.

Memuliakan Sesama: Cermin Hati yang Lapang

Setiap majelis ilmu adalah laksana taman surga yang dirindukan para malaikat. Ketika kita melangkah ke dalamnya, jiwa kita seharusnya dipenuhi dengan semangat persaudaraan. Salah satu manifestasi paling awal dari semangat ini adalah cara kita menyambut saudara sesama penuntut ilmu. Ketika seorang saudara baru tiba, sambutlah ia dengan senyum, berikan kelapangan tempat duduk, dan muliakan ia sebagaimana kita ingin dimuliakan. Inilah ajaran luhur yang Allah SWT abadikan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini bukan sekadar perintah untuk bergeser secara fisik, melainkan sebuah pendidikan jiwa untuk melapangkan hati kita. Dengan melapangkan tempat untuk saudara kita, Allah berjanji akan melapangkan urusan kita. Sebaliknya, bagi yang baru datang, jika melihat majelis sudah padat, hendaklah ia merendahkan hati, tidak memaksakan diri atau mengambil ruang yang menyempitkan orang lain. Inilah keseimbangan adab yang indah; yang lama memuliakan, yang baru menghormati.

Menjaga Sikap: Esensi Adab dalam Majelis Ilmu dan Menghormati Guru

Setelah duduk dalam lingkaran ilmu, penjagaan adab justru semakin diuji. Posisi duduk kita adalah cerminan dari kesiapan kita menerima ilmu. Duduklah dengan tenang, tidak menyandarkan punggung atau siku kepada teman di sebelah, seolah menjadikannya sandaran. Hindari gerakan yang dapat mengganggu konsentrasi, seperti maju atau mundur keluar dari formasi halaqah. Setiap detail kecil ini menunjukkan betapa kita menghargai ilmu, guru yang menyampaikannya, dan saudara-saudara yang bersama-sama belajar. Inilah wujud nyata penerapan adab dalam majelis ilmu dan menghormati guru.

Sikap tubuh yang terjaga akan membantu menjaga fokus hati. Ketika seorang guru sedang menjelaskan, seluruh perhatian kita harus tercurah kepadanya. Pandangan, pendengaran, dan hati kita terkunci pada untaian hikmah yang disampaikannya. Inilah adab yang akan membuka pintu pemahaman dan menjadikan ilmu itu berkah.

Lisan yang Terjaga: Cerminan Kedalaman Ilmu dan Iman

Jika sikap tubuh adalah cerminan adab lahiriah, maka lisan adalah jendela adab batiniah. Di dalam majelis ilmu, lisan memiliki aturan emas yang harus dijaga ketat. Adab ini bukan untuk mengekang, melainkan untuk memuliakan proses belajar itu sendiri.

Seni Mendengarkan Sebelum Berbicara

Salah satu kesalahan fatal penuntut ilmu adalah berbicara saat guru atau teman lain sedang menyampaikan pelajaran. Memotong pembicaraan, atau bahkan membicarakan topik lain yang tidak relevan, adalah bentuk kezaliman terhadap ilmu. Ia tidak hanya merusak konsentrasi pembicara, tetapi juga mengganggu hak orang lain untuk mendengarkan. Tahanlah lisan hingga kita benar-benar yakin bahwa apa yang akan kita sampaikan membawa manfaat dan diucapkan pada waktu yang tepat. Tunggulah hingga guru selesai, atau mintalah izin dengan cara yang paling santun. Ini adalah bagian krusial dari adab dalam majelis ilmu dan menghormati guru.

Menghindari Perdebatan yang Mengeraskan Hati

Tujuan majelis ilmu adalah mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan. Oleh karena itu, hindarilah perdebatan kusir (mira’) dan keinginan untuk saling mengalahkan dalam beradu argumen. Jika kita merasakan percikan ego dan nafsu untuk menang mulai muncul, segera padamkan dengan diam dan sabar. Ingatlah janji mulia dari Rasulullah SAW bagi mereka yang mampu menahan diri dari perdebatan sia-sia, bahkan ketika merasa benar.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (H.R. Abu Dawud).

Meninggalkan perdebatan bukan berarti kalah, melainkan kemenangan atas ego diri sendiri. Sikap ini akan menjaga hati dari kekerasan, memelihara kelembutan ukhuwah, dan menjauhkan majelis dari kebencian yang merusak.

Puncak Adab dalam Majelis Ilmu dan Menghormati Guru: Membela Kehormatan Sang Murobbi

Guru (Syaikh atau Murobbi) adalah pewaris para nabi yang menjadi perantara sampainya ilmu kepada kita. Menghormati dan menjaga kehormatannya adalah kewajiban setiap murid. Jika ada seorang murid yang berbuat kurang pantas kepada murid lain, maka yang berhak menegurnya adalah sang guru. Kita tidak boleh mengambil alih peran tersebut, kecuali atas isyarat darinya, atau dengan cara menasihati secara rahasia dan lembut.

Namun, jika ada yang berbuat tidak sopan atau merendahkan martabat sang guru, maka menjadi kewajiban seluruh murid yang hadir untuk membelanya. Inilah bukti cinta dan kesetiaan kita pada pembimbing ruhani kita. Membela kehormatan guru adalah bagian tak terpisahkan dari pengamalan adab dalam majelis ilmu dan menghormati guru. Ini adalah wujud syukur kita atas jasa mereka yang tak ternilai. Dengan memuliakan guru, kita sejatinya sedang memuliakan ilmu yang mereka bawa.

Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu adalah perjalanan membentuk karakter. Ilmu yang didapat tanpa adab laksana jasad tanpa ruh; ia mungkin tampak besar, namun hampa dari keberkahan. Mari kita hiasi diri kita dengan akhlak mulia, karena sesungguhnya adab dalam majelis ilmu dan menghormati guru adalah kunci utama yang akan membuka pintu-pintu kemudahan dari Allah SWT dalam memahami dan mengamalkan ilmu.

Semoga setiap langkah kita dalam menuntut ilmu senantiasa diiringi dengan taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara spiritual. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami meyakini bahwa adab adalah nafas dari setiap hafalan dan pemahaman Al-Qur’an. Mari bersama-sama menapaki jalan mulia ini dalam lingkungan yang mendukung pertumbuhan ilmu dan akhlak.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11.
  • Hadits Riwayat Abu Dawud, no. 4800, dalam Kitab al-Adab, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani.
  • Al-Yusi, Al-Husain bin Al-Mansur Billah. (n.d.). Ādāb al-ʿUlamāʾ wa al-Mutaʿallimīn.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,