Setiap jiwa memiliki fitrah untuk menjadi yang terdepan. Sebuah dorongan alami untuk meraih posisi pertama, terutama dalam arena yang menjanjikan pahala dan kemuliaan. Namun, dalam simfoni ajaran Islam yang begitu indah, ada ritme lain yang tak kalah merdu: ritme kepedulian yang disebut itsar, seni mendahulukan orang lain. Di sinilah seringkali hati kita bertanya, manakah yang harus didahulukan? Apakah semangat kompetisi spiritual ataukah kelembutan jiwa yang mengalah? Memahami kapan kita boleh mendahulukan orang lain dalam kebaikan adalah sebuah ilmu adab yang tinggi, yang membedakan antara semangat yang tulus dengan pengorbanan yang bernilai di sisi-Nya.

Memahami Hakikat Berlomba dan Keutamaan Itsar

Al-Qur’an secara tegas menyemangati kita untuk berlomba dalam kebaikan. Ini bukanlah tentang persaingan duniawi yang melahirkan dengki, melainkan sprint spiritual menuju keridhaan Allah. Sebagaimana firman-Nya:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah: 148).

Ayat ini adalah bahan bakar bagi jiwa-jiwa yang haus akan pahala. Namun, di sisi lain, Allah memuji setinggi-tingginya kaum Anshar yang mempraktikkan itsar, sebuah level pengorbanan tertinggi.

…وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr: 9).

Dua spirit ini—berlomba dan mendahulukan—bukanlah paradoks, melainkan dua sisi mata uang dari akhlak Islami yang agung. Keduanya memiliki panggungnya masing-masing. Kuncinya adalah mengetahui kapan harus berlari kencang di lintasan dan kapan harus menepi sejenak untuk memberi jalan bagi sesama.

Tiga Kondisi Mulia: Kapan Kita Boleh Mendahulukan Orang Lain dalam Kebaikan

Para ulama, seperti yang dinukil oleh Al-Khatib dalam kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim, telah memberikan panduan yang sangat jernih. Mendahulukan orang lain dalam antrean kebaikan (seperti dalam majelis ilmu) sangat dianjurkan (mustahab) dalam kondisi-kondisi tertentu yang justru akan melipatgandakan pahala kita.

1. Memuliakan Tamu atau Sosok Asing (Gharib)

Ketika seseorang yang datang adalah seorang musafir, tamu, atau orang baru di lingkungan kita, mendahulukannya adalah wujud pemuliaan. Mengapa? Al-Khatib menyebutkan, “li ta’akkudi hurmatihi,” untuk menegaskan dan menguatkan kehormatannya. Ia mungkin merasa canggung, tidak mengenal siapa pun, atau lelah dari perjalanan. Memberinya tempat terdepan adalah pesan non-verbal yang sarat makna: “Anda kami hargai, Anda kami muliakan.” Ini adalah dakwah melalui adab yang dampaknya luar biasa bagi hati.

2. Merespons Kebutuhan Mendesak (Hajah Dharuriyyah)

Kondisi kedua yang menjadi pertimbangan kapan kita boleh mendahulukan orang lain dalam kebaikan adalah ketika kita mengetahui ada seseorang yang memiliki hajat darurat. Mungkin ada seorang ibu yang harus segera pulang karena anaknya sakit, atau seorang pekerja yang waktunya sangat terbatas. Fikih Islam bukanlah seperangkat aturan yang kaku, melainkan panduan yang penuh empati. Kepekaan kita untuk melihat dan merasakan kebutuhan orang lain adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Mendahulukannya bukan berarti kita kalah, tetapi kita sedang memenangkan pahala dari pintu empati dan kasih sayang.

3. Menaati Arahan Guru atau Pemimpin (Isyarah asy-Syaikh)

Dalam sebuah majelis ilmu atau komunitas, seorang guru (syaikh) atau pemimpin memiliki pandangan yang lebih luas. Mungkin beliau melihat potensi pada seseorang di barisan belakang dan ingin memberinya kesempatan bertanya lebih dulu. Atau beliau mengetahui kondisi khusus seseorang yang tidak kita ketahui. Ketika sang guru memberi isyarat agar kita mempersilakan orang lain maju, maka ketaatan kita adalah sebuah kebaikan tersendiri. Ini melatih jiwa untuk tunduk pada ilmu dan hikmah, serta menanggalkan ego pribadi demi kemaslahatan bersama.

Saat Mempertahankan Hak Adalah Sebuah Kebaikan

Lalu, bagaimana jika ketiga kondisi di atas tidak ada? Kitab tersebut menegaskan, “wa illā falā,” (jika tidak, maka jangan). Artinya, jika tidak ada alasan syar’i yang kuat, maka mempertahankan posisi kita yang datang lebih awal justru lebih utama. Mengapa? “li kaunihi qurbah,” karena posisi itu sendiri adalah sebuah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Datang lebih awal untuk shalat shaf pertama, hadir lebih pagi di majelis ilmu, adalah bagian dari kesungguhan kita dalam beribadah. Menjaganya adalah bentuk syukur atas taufik yang Allah berikan untuk bisa menjadi yang terdepan dalam ketaatan.

Hak yang Tak Gugur: Sebuah Jaminan bagi Penuntut Ilmu

Islam juga memberikan sebuah jaminan yang indah. Hak seseorang yang datang lebih awal tidak akan gugur hanya karena ia harus pergi sejenak untuk menunaikan hajat yang tak terhindarkan. Misalnya, seseorang yang sudah duduk di shaf terdepan lalu ia perlu berwudhu kembali atau ke kamar kecil. Ketika ia kembali, tempat itu tetap menjadi haknya. Ini adalah sebuah kaidah yang menjaga semangat dan menghilangkan kekhawatiran. Aturan ini memastikan bahwa tidak ada yang ragu untuk menyucikan diri atau memenuhi kebutuhan mendesaknya karena takut kehilangan posisi mulia yang telah ia usahakan. Betapa detil dan perhatiannya syariat kita dalam menjaga setiap tetes semangat para pencari kebaikan.

Pada akhirnya, menimbang kapan kita boleh mendahulukan orang lain dalam kebaikan adalah cerminan dari kedewasaan spiritual. Ini adalah dialog antara semangat pribadi untuk meraih yang terbaik dengan kepekaan hati untuk merasakan dan memuliakan sesama. Keduanya, jika ditempatkan pada porsinya yang tepat, akan melahirkan pribadi muslim yang tidak hanya shalih untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi rahmat bagi sekelilingnya.

Semoga Allah membimbing hati kita untuk mampu berlari kencang dalam kebaikan, sekaligus memiliki kelembutan untuk memberi jalan bagi saudara kita di saat yang paling tepat. Karena di situlah letak keindahan dan kesempurnaan adab seorang hamba.

Tertarik untuk mendalami Al-Qur’an dengan bimbingan yang memadukan semangat, adab, dan metode yang efektif? Mari bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat kita belajar menjadi yang terdepan dalam kebaikan seraya merawat keindahan akhlak Qur’ani.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Baqarah: 148
  • Q.S. Al-Hasyr: 9
  • Al-Yamanī, Al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr Billāh. Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,