Mengajar Al-Qur’an adalah kemuliaan. Tapi, pernahkah kita merenungi, mengapa terkadang ilmu yang kita ajarkan terasa hambar? Mengapa hati murid-murid kita sulit tersentuh? Bisa jadi, jawabannya terletak pada niat kita, pada adab guru Quran yang seringkali terlupakan.
Dahulu, para ulama salaf begitu berhati-hati dalam menyampaikan ilmu. Mereka tidak ingin sedikit pun ada noda riya’ atau keinginan duniawi dalam setiap huruf yang mereka ajarkan. Mereka sadar betul, bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya hanya akan bersinar di hati yang bersih.
Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin seorang guru Quran memiliki niat yang buruk? Bukankah ia sudah berkorban waktu dan tenaga untuk mengajarkan firman Allah? Di sinilah letak ujiannya. Setan tidak pernah berhenti menggoda. Ia membisikkan pujian, popularitas, dan keuntungan duniawi ke dalam hati kita. Tanpa disadari, niat kita bergeser. Dari yang semula ikhlas karena Allah, menjadi karena ingin dipuji, dihormati, atau bahkan mendapatkan materi.
Niat yang ikhlas adalah fondasi utama dalam adab guru Quran. Tanpa fondasi yang kokoh, bangunan ilmu yang kita ajarkan akan mudah runtuh. Ilmu yang tidak disertai keikhlasan hanya akan menjadi beban di akhirat kelak. Sungguh merugi.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa setiap amal ibadah, termasuk mengajar Al-Qur’an, harus dilandasi dengan keikhlasan. Tidak ada tempat bagi riya’ dan sum’ah dalam agama ini. Ikhlas itu sulit? Ya, sangat sulit. Bahkan, para ulama salaf pun merasa kesulitan untuk meraihnya. Tapi, bukan berarti kita menyerah. Justru, di situlah letak perjuangan kita.
Mengapa Ikhlas Begitu Penting dalam Adab Guru Quran?
Ikhlas bukan sekadar formalitas. Ia adalah ruh dari setiap amal ibadah. Tanpa ruh, amal ibadah kita hanya akan menjadi jasad yang tidak bernyawa. Ia tidak akan memberikan manfaat bagi diri kita maupun orang lain. Inilah beberapa alasan mengapa ikhlas begitu penting dalam adab guru Quran:
Mendatangkan Keberkahan Ilmu
Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan lebih mudah diterima dan diamalkan oleh murid-murid kita. Hati mereka akan terbuka untuk menerima hidayah Allah. Ilmu tersebut akan menjadi bekal bagi mereka di dunia dan akhirat.
Menjauhkan Diri dari Riya’
Riya’ adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapus pahala amal ibadah kita. Dengan ikhlas, kita akan terhindar dari penyakit ini. Kita akan senantiasa menjaga niat kita agar tetap lurus karena Allah.
Mendapatkan Ridha Allah
Ridha Allah adalah tujuan utama kita dalam hidup ini. Dengan ikhlas, kita akan mendapatkan ridha-Nya. Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusan kita. Kita akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.
Lalu, bagaimana cara meraih keikhlasan dalam mengajar Al-Qur’an? Ini bukan perjalanan sekali jadi. Ini adalah proses yang terus menerus, sebuah perjuangan tanpa henti. Berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan:
Perbarui Niat Setiap Saat
Sebelum memulai pelajaran, luangkan waktu sejenak untuk memperbarui niat kita. Ingatkan diri kita, bahwa kita mengajar Al-Qur’an hanya karena Allah. Bukan karena ingin dipuji, dihormati, atau mendapatkan materi.
Jauhi Pujian dan Popularitas
Jangan biarkan pujian dan popularitas membutakan mata hati kita. Ingatlah, bahwa semua itu hanyalah ujian dari Allah. Tetaplah rendah hati dan fokus pada tujuan utama kita, yaitu mencari ridha Allah.
Introspeksi Diri Secara Rutin
Luangkan waktu untuk merenungi diri kita. Apakah niat kita sudah benar? Apakah kita sudah ikhlas dalam mengajar Al-Qur’an? Jika ada yang salah, segera perbaiki.
Ikhlas itu berat. Sangat berat. Tapi, percayalah, Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Jika kita bersungguh-sungguh ingin meraih keikhlasan, Allah pasti akan memberikan jalan. Jangan pernah menyerah. Teruslah berjuang hingga akhir hayat.
Mengajar Al-Qur’an bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu. Lebih dari itu, ia adalah amanah yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Mari kita jadikan setiap huruf yang kita ajarkan sebagai amal jariyah yang akan terus mengalirkan pahala bagi kita hingga akhirat kelak. Dengan adab guru Quran yang baik, insyaAllah.
Daftar Referensi
الكتاب: التبيان في آداب حملة القرآن
المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (ت ٦٧٦هـ)
حققه وعلق عليه: محمد الحجار
الطبعة: الثالثة مزيدة ومنقحة، ١٤١٤ هـ – ١٩٩٤ م
الناشر: دار ابن حزم للطباعة والنشر والتوزيع – بيروت – لبنان – ص ب: ٦٣٦٦ / ١٤ – تلفون: ٨٣١٣٣١
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
عدد الصفحات: ٢٣٠
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100


