Setiap langkah kaki yang kita ayunkan menuju sebuah majelis ilmu adalah perjalanan suci. Bukan hanya raga yang bergerak, melainkan jiwa yang merindu untuk disirami samudra hikmah. Namun, sering kali kita lupa bahwa sebelum ilmu dituangkan, wadah hati kita harus disiapkan terlebih dahulu. Kunci persiapan itu adalah adab, sebuah permata yang membuat ilmu menjadi berkah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab klasik Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn, ada untaian adab mulia yang perlu kita tenun. Ini bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis tentang bagaimana etika duduk di majelis ilmu agar berkah menjadi nyata dalam laku kita.

Memasuki Majelis: Salam Pembuka Keberkahan

Langkah pertama saat kita memasuki sebuah taman ilmu adalah menebarkan salam. Namun, bukan salam yang lirih dan hanya terdengar oleh satu-dua orang. Kitab ini mengajarkan kita untuk mengucapkan salam dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh hadirin. Ini adalah doa, sapaan hangat, dan tanda hormat kita kepada semua jiwa yang haus akan ilmu. Lebih dari itu, kepada sang guru (syekh), hendaknya kita memberikan salam yang lebih khusus, sebuah penghormatan ekstra yang menunjukkan betapa kita memuliakan sosok penyampai risalah ilmu. Hal yang sama berlaku saat kita hendak meninggalkan majelis. Salam di awal adalah izin untuk masuk, dan salam di akhir adalah permohonan restu agar ilmu yang didapat melekat di hati.

Menemukan Posisi: Cerminan Tawadhu dan Etika Duduk di Majelis Ilmu agar Berkah

Di sinilah ujian pertama atas ketawadhu’an kita dimulai. Saat mata kita mencari tempat untuk berlabuh, sering kali ego membisikkan untuk meraih posisi terdepan, terdekat dengan guru. Namun, adab mengajarkan hal sebaliknya. Jangan pernah melangkahi pundak-pundak saudara kita hanya demi sebuah posisi. Itu menyakiti dan merusak kekhusyukan. Sebaliknya, duduklah di mana pun kita menemukan ruang kosong, di ujung barisan sekalipun. Inilah praktik langsung dari sabda Rasulullah ﷺ.

Praktik ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu kami apabila mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah seorang dari kami akan duduk di mana majelis itu berakhir (di tempat yang masih kosong).” (H.R. Abu Dawud & Tirmidzi).

Tentu ada pengecualian. Jika sang guru atau para hadirin mempersilakan kita untuk maju, atau jika kita memang memiliki kedudukan yang menuntut posisi tersebut (misalnya untuk berdiskusi), maka hal itu diperbolehkan. Prinsipnya adalah, jangan merebut hak, tetapi penuhilah panggilan kehormatan dengan kerendahan hati. Inilah esensi sejati dari etika duduk di majelis ilmu agar berkah; mengutamakan kenyamanan bersama di atas ambisi pribadi.

Menghormati Hak Sesama Penuntut Ilmu

Keindahan sebuah majelis ilmu terletak pada rasa persaudaraan yang melingkupinya. Setiap orang yang hadir adalah rekan seperjuangan dalam mengangkat kebodohan dari diri. Oleh karena itu, menghormati hak mereka adalah bagian tak terpisahkan dari adab.

Larangan Menggeser Tempat Duduk Orang Lain

Secara tegas, kita dilarang untuk meminta seseorang berdiri dari tempat duduknya agar kita bisa menempatinya. Perbuatan ini menunjukkan arogansi dan merendahkan martabat sesama penuntut ilmu. Allah SWT sendiri telah memberikan panduan umum tentang kelapangan dalam majelis:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini mengajarkan kita untuk proaktif memberikan ruang, bukan justru menyempitkan ruang bagi saudara kita. Inilah mentalitas yang harus dibangun oleh para pencari ilmu sejati.

Seni Menerima dan Menolak Tawaran Tempat

Bagaimana jika ada seseorang yang berbaik hati menawarkan tempat duduknya kepada kita? Adab yang utama adalah menolaknya dengan halus, sebagai bentuk penghormatan atas kebaikan hatinya dan pengakuan bahwa ia juga berhak atas tempat tersebut. Namun, ada kondisi di mana kita boleh menerimanya, yaitu jika ada kemaslahatan yang lebih besar. Misalnya, jika dengan duduk di sana kita bisa lebih dekat dengan guru untuk sebuah diskusi yang manfaatnya dirasakan oleh semua hadirin, atau karena faktor usia lanjut dan kehormatan ilmu yang kita miliki. Kuncinya adalah niat: bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kebaikan bersama.

Posisi Ideal: Upaya Meraih Fokus dan Keberkahan

Setelah memahami prinsip dasar untuk tidak mengganggu orang lain, kita diajarkan untuk tetap bersemangat mencari posisi terbaik. Semangat mencari posisi terbaik adalah bagian dari kesungguhan, dan inilah kunci dari etika duduk di majelis ilmu agar berkah. Posisi ideal bukanlah tentang gengsi, melainkan tentang memaksimalkan penyerapan ilmu.

Dekat dengan Guru Tanpa Melampaui Batas

Berusahalah untuk bisa duduk dekat dengan guru, selama usaha itu tidak membuat kita melangkahi orang yang lebih mulia dari kita (lebih tua, lebih berilmu, atau lebih saleh). Kedekatan fisik sering kali membantu membangun kedekatan batin dan fokus. Posisi terbaik di sekitar guru, seperti di sisi kanan dan kirinya, selayaknya diisi oleh mereka yang paling utama dari para hadirin.

Kebersamaan dalam Kelompok Belajar

Satu adab praktis yang sangat indah adalah anjuran bagi para santri atau peserta dari satu kelompok belajar yang sama untuk duduk berkumpul di satu area. Mengapa? Agar pandangan guru bisa menjangkau mereka semua secara merata saat menjelaskan. Ini mencegah guru hanya fokus pada satu sudut dan mengabaikan yang lain. Dengan berkumpul, kita tidak hanya memudahkan guru, tetapi juga menciptakan atmosfer belajar yang lebih solid dan suportif. Inilah bukti bahwa etika duduk di majelis ilmu agar berkah juga memikirkan efektivitas proses belajar-mengajar itu sendiri.

Pada akhirnya, setiap detail adab di majelis ilmu adalah benih tawadhu’ yang kita tanam. Dari cara kita menebar salam, memilih tempat duduk, hingga menghormati hak sesama, semuanya adalah cerminan dari hati yang memuliakan ilmu dan pemiliknya. Ketika adab kita jaga, pintu keberkahan ilmu akan Allah bukakan selebar-lebarnya, menjadikan setiap detik di majelis itu sebagai tangga pendakian spiritual menuju rida-Nya.

Semoga setiap ilmu yang kita pelajari, khususnya Al-Qur’an, tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menghiasi akhlak dan memberkahi kehidupan kita. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami meyakini bahwa adab adalah fondasi utama sebelum membangun istana hafalan Al-Qur’an yang kokoh. Mari bersama-sama menata hati dan adab untuk meraih cahaya ilahi.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11.
  • Hadis Riwayat Abu Dawud No. 4828 dan Tirmidzi No. 2724, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani.
  • Al-Yusi, Al-Hasan bin Mas’ud. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,