Kalam Ilahi, firman-firman suci yang terangkum dalam Al-Qur’an, adalah permata tak ternilai bagi setiap muslim. Kedudukannya yang agung menuntut penghormatan dan adab yang istimewa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita berinteraksi dengan firman-firman tersebut, baik melalui bacaan, hafalan, maupun ketika hendak mengungkapkannya dalam bentuk lain. Bagaimana kita dapat senantiasa Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami yang beragam, tanpa sedikit pun mengurangi nilai kesuciannya?
Perjalanan seorang muslim dalam berinteraksi dengan wahyu adalah sebuah seni sekaligus ibadah. Ekspresi keimanan bisa terwujud dalam berbagai rupa, mulai dari lantunan indah ayat-ayat suci, penulisan kaligrafi menawan, hingga puisi-puisi yang sarat makna. Namun, dalam upaya mengabadikan atau mengintegrasikan keindahan Al-Qur’an dan hadits dalam karya-karya kreatif, muncul sebuah pembahasan penting dalam tradisi keilmuan Islam, yaitu tentang ‘iqtibbas’.
Memahami ‘Iqtibas’ dan Adabnya dalam Tradisi Islam
‘Iqtibas’ secara sederhana dapat dipahami sebagai pengambilalihan atau penyisipan sebagian dari Al-Qur’an atau hadits dalam prosa atau syair, tanpa menyebutkan bahwa itu adalah bagian dari wahyu. Tujuannya seringkali untuk memperindah ungkapan, menguatkan argumen, atau memberikan kedalaman makna. Sejarah mencatat adanya perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai praktik ini, yang menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam upaya Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami.
Sebagian ulama, seperti yang dicatat dalam teks-teks klasik, memiliki pandangan yang sangat berhati-hati. Syekh Baha’uddin, dalam karyanya ‘Arusul Afrah, bahkan menegaskan bahwa sikap ‘wara’ (kehati-hatian) yang utama adalah menjauhi praktik tersebut secara keseluruhan. Beliau berpendapat bahwa kalam Allah dan Rasul-Nya harus senantiasa dijaga kesuciannya dan dinilai lebih tinggi dari sekadar diintegrasikan ke dalam susunan kata-kata manusiawi yang mungkin merubah konteks atau makna aslinya. Kekhawatiran ini berakar pada niat luhur untuk melindungi wahyu dari potensi penyalahgunaan, penafsiran yang keliru, atau bahkan trivialisasi.
Namun, di sisi lain, banyak imam besar dan ulama terkemuka juga didapati menggunakan iqtibas dalam karya-karya mereka, dengan penuh adab dan kebijaksanaan. Ini menunjukkan bahwa praktik iqtibas, jika dilakukan dengan niat yang benar dan pemahaman yang mendalam, bisa menjadi bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap wahyu itu sendiri. Sebut saja Imam Abul Qasim Ar-Rafi’i, seorang ulama besar yang terkenal, yang dalam amali-amali dan riwayatnya menyertakan syair-syair yang sarat dengan nuansa wahyu:
الْمُلْكُ لِلَّهِ الَّذِي عَنَتِ الْوُجُو
هُ لَهُ وَذَلَّتْ عِنْدَهُ الْأَرْبَابُ
مُتَفَرِّدٌ بِالْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ قَدْ
خَسِرَ الَّذِينَ تَجَاذَبُوهُ وَخَابُوا
دَعْهُمْ وَزَعْمَ الْمُلْكِ يَوْمَ غُرُورِهِمْ
فَسَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ!Artinya: “Kerajaan itu milik Allah, yang kepadanya tunduklah segala wajah. Dan di hadapannya merendahlah para penguasa. Dia Maha Esa dalam kerajaan dan kekuasaan, sungguh merugi dan kecewa orang-orang yang saling berebutnya. Biarkan mereka dengan sangkaan kerajaan pada hari kesesatan mereka, sebab esok mereka akan mengetahui siapa pendusta sebenarnya!”
Syair ini dengan indahnya merefleksikan keesaan Allah dalam kepemilikan dan kekuasaan, mengingatkan kita pada banyak ayat Al-Qur’an tentang kedaulatan Ilahi. Ini adalah contoh bagaimana esensi wahyu dapat diintegrasikan secara artistik tanpa merusak keagungannya.
Tantangan dan Keindahan Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami
Tantangan utama dalam iqtibas atau bentuk ekspresi Islami lainnya adalah menjaga batas antara penghormatan dan penyalahgunaan. Firman Allah bukanlah sekadar kata-kata indah yang dapat diolah sesuka hati. Ia adalah cahaya petunjuk yang mengandung kebenaran absolut. Oleh karena itu, niat dan pemahaman yang mendalam menjadi kunci. Ketika iqtibas digunakan untuk memperkuat pesan kebaikan, menambah kekhusyukan, atau menginspirasi takwa, maka ia bisa menjadi jembatan antara hati manusia dan sumber wahyu.
Al-Qur’an sendiri telah mengajarkan kepada kita adab dalam berinteraksi dengannya. Hati seorang mukmin sejati akan bergetar saat nama Allah disebut, dan keimanannya bertambah saat ayat-ayat-Nya dibacakan. Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Q.S. Al-Anfal: 2)
Ayat ini mengingatkan kita akan esensi hubungan dengan wahyu: hati yang tunduk, iman yang bertambah, dan tawakal yang kuat. Ekspresi Islami haruslah mengalir dari esensi ini, bukan sekadar hiasan kata-kata.
Inspirasi Para Imam dalam Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami
Inspirasi tentang bagaimana Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami juga datang dari kisah yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam ‘Syu’ab al-Iman’. Beliau mengisahkan dari gurunya, Abu Abdurrahman As-Sulami, bahwa Ahmad bin Muhammad bin Yazid melantunkan syairnya sendiri:
سَلِ اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ وَاتَّقِهِ
فَإِنَّ التُّقَى خَيْرُ مَا تَكْتَسِبُ
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَصْنَعْ لَهُ
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.Artinya: “Mohonlah kepada Allah karunia-Nya dan bertakwalah kepada-Nya, karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik yang kamu usahakan. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Dua bait terakhir dari syair ini merupakan iqtibas yang sangat indah dan langsung menyinggung firman Allah dalam Surah At-Talaq. Perhatikan bagaimana syair tersebut tidak secara eksplisit menyatakan “Allah berfirman”, tetapi maknanya yang kuat dan pesannya yang luhur tetap terasa, bahkan diperkuat. Ini adalah contoh keindahan iqtibas yang mampu menginspirasi dan mengingatkan tanpa mereduksi makna asli ayat.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
Artinya: “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (2) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.S. At-Talaq: 2-3)
Kisah-kisah ini mengajarkan kita bahwa niat lurus, pemahaman konteks, dan adab yang tinggi adalah fondasi utama dalam setiap ekspresi keimanan. Ketika tujuan kita adalah mengagungkan Allah dan firman-Nya, serta menghidupkan nilai-nilai wahyu dalam diri dan masyarakat, maka ekspresi tersebut akan diberkahi.
Melalui pembelajaran yang mendalam dan bimbingan yang tepat, setiap kita dapat mengembangkan sensitivitas dalam berinteraksi dengan Kalam Ilahi. Ini bukan hanya tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang menemukan cara-cara baru untuk mencintai, menghormati, dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga kita senantiasa diberikan taufiq untuk senantiasa Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi dalam Bingkai Ekspresi Islami.
Mari terus mendekat kepada Al-Qur’an, tidak hanya dengan hafalan, tetapi juga dengan pemahaman yang mendalam dan adab yang luhur. Bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta untuk bimbingan komprehensif dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan metode terbaik, sehingga setiap interaksi kita dengan Kalam Ilahi menjadi berkah dan ibadah.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surah Al-Anfal Ayat 2.
- Al-Qur’an Surah At-Talaq Ayat 2-3.
- As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar. _Al-Itqan fi Ulumil Qur’an_. Beirut: Darul Fikr.
- Al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Husain. _Syu’ab al-Iman_.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


