Ilmu adalah cahaya, dan untuk meraih cahayanya secara paripurna, kita memerlukan sebuah wadah yang suci. Wadah itu bukanlah sekadar akal yang cerdas, melainkan adab yang menghiasi setiap gerak-gerik dan tutur kata. Seringkali kita fokus pada apa yang diajarkan, namun luput memperhatikan bagaimana cara kita membersamai sang pengajar. Padahal, keberkahan seringkali mengalir deras justru melalui celah-celah akhlak mulia. Memahami secara mendalam tentang adab berjalan dan menyikapi guru adalah langkah awal untuk membuka pintu-pintu keberkahan ilmu yang lebih luas, mengubah interaksi biasa menjadi ibadah yang bernilai tinggi.
Seni Membersamai Guru: Adab Berjalan yang Terlupakan
Bagaimana kita berjalan bersama seorang guru ternyata menyimpan filosofi yang begitu dalam. Ini bukan tentang aturan kaku, melainkan cerminan dari hati yang menghormati dan ingin berkhidmat. Para ulama terdahulu telah merumuskan panduan indah yang sarat akan makna, menunjukkan bahwa setiap langkah di sisi seorang alim adalah kesempatan untuk menumbuhkan kerendahan hati.
Di Depan Saat Gelap, Di Belakang Saat Terang
Sebuah kaidah emas menyatakan, hendaknya seorang murid berjalan di depan gurunya pada malam hari, dan di belakangnya pada siang hari. Apa rahasianya? Malam identik dengan kegelapan dan ketidaktahuan. Dengan berjalan di depan, kita memosisikan diri sebagai pelindung, perisai yang siap menghadapi segala rintangan tak terduga yang mungkin membahayakan guru, entah itu jalan berlubang, genangan air, atau halangan lainnya. Ini adalah wujud khidmat dan penjagaan.
Sebaliknya, di siang hari yang terang, kita mengambil posisi di belakang. Langkah ini adalah simbol penghormatan, memberikan ruang bagi guru untuk memimpin. Berjalan di belakang adalah pengakuan tulus bahwa beliau adalah pemandu kita, sang pembawa cahaya yang jalannya layak kita ikuti. Inilah manifestasi fisik dari kerendahan hati, sebuah pengakuan bahwa kita adalah pengikut dalam perjalanan ilmu ini.
Menjadi Perisai di Medan Tak Dikenal
Kaidah di atas bersifat fleksibel. Jika kondisi menuntut, adab bisa disesuaikan. Misalnya, saat melintasi jalanan berlumpur, licin, atau wilayah yang asing dan berpotensi bahaya, seorang murid dianjurkan untuk maju mendahului. Tujuannya bukan untuk melangkahi, melainkan untuk memastikan jalan yang akan dilalui guru aman. Kita menjadi “tim survei” yang memastikan kenyamanan dan keselamatan beliau. Inilah esensi sejati dari adab berjalan dan menyikapi guru; ia dinamis, cerdas, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Adab Berkomunikasi: Lebih dari Sekadar Kata
Interaksi dengan guru tidak hanya terbatas pada langkah kaki, tetapi juga terwujud dalam cara kita menyapa dan berkomunikasi. Lisan dan sikap adalah duta dari hati kita. Maka, memuliakan guru berarti menjaga setiap detail komunikasi agar senantiasa berada dalam koridor penghormatan tertinggi.
Salam yang Menghampiri, Bukan Teriakan dari Jauh
Apabila kita melihat guru dari kejauhan, janganlah memanggil atau mengucapkan salam dari jarak tersebut. Adab menuntun kita untuk mendekat terlebih dahulu dengan tenang, menghampiri beliau dengan sikap tawadhu, barulah kemudian mengucapkan salam dengan santun. Berteriak dari jauh, meskipun niatnya baik, dapat mengurangi wibawa dan kehormatan seorang guru. Demikian pula, jangan memberi salam dari arah belakang. Majulah sedikit ke depan hingga terlihat, lalu sampaikan salam. Gerakan “menghampiri” ini adalah pesan non-verbal yang sarat makna: “Wahai Guru, ilmumu begitu berharga, hingga aku rela melangkahkan kaki untuk sekadar menyapamu.”
Indahnya Ikhtilaf: Cara Elegan Menyikapi Kekeliruan Guru
Bagian terpenting dari adab berjalan dan menyikapi guru adalah saat kita melihat ada sesuatu yang kurang tepat pada pandangan atau tindakan beliau. Guru adalah manusia, bukan malaikat yang luput dari salah. Namun, cara kita menyikapinya menunjukkan kualitas adab kita. Dilarang keras untuk berkata, “Ini salah!” atau “Pendapat Anda keliru.” Kalimat seperti itu menusuk dan meruntuhkan kemuliaan.
Kitab *Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim* memberikan solusi yang sangat elegan. Alih-alih menyalahkan secara langsung, gunakanlah kalimat yang lebih halus dan konstruktif. Misalnya, “Tampaknya, kemaslahatan yang lebih besar ada pada pilihan yang ini, Guru.” atau “Bagaimana jika kita mempertimbangkan sisi yang ini?” Hindari pula mengatakan, “Menurut pendapat saya begini,” karena frasa itu seolah menandingi pandangan beliau. Seni mengoreksi dengan tetap menjaga kehormatan adalah puncak dari akhlak seorang penuntut ilmu.
Allah SWT sendiri mengajarkan tentang pentingnya berkata-kata yang baik, bahkan kepada orang yang paling durhaka sekalipun.
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰٓ
Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.S. Taha: 44)
Jika kepada Fir’aun saja Allah perintahkan untuk bertutur lembut, bagaimana mungkin kita berlaku sebaliknya kepada para pewaris nabi? Adab yang luhur inilah yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah.
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
Artinya: “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)
Derajat itu tidak hanya diraih dari banyaknya hafalan atau luasnya wawasan, tetapi juga dari ketinggian adab yang kita amalkan. Menguasai adab berjalan dan menyikapi guru adalah investasi terbaik untuk meraih keberkahan ilmu yang hakiki.
Kesimpulan: Adab Adalah Ruhnya Ilmu
Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu adalah perjalanan menata hati dan memperbaiki akhlak. Setiap detail, mulai dari cara kita melangkah, menyapa, hingga menyikapi perbedaan pendapat, adalah bagian dari kurikulum tersembunyi yang dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar transfer pengetahuan. Mari kita hidupkan kembali permata-permata adab ini dalam interaksi kita dengan para guru. Karena dengan memuliakan mereka, sesungguhnya kita sedang memuliakan ilmu itu sendiri, dan membuka pintu rahmat Allah seluas-luasnya. Semoga setiap langkah dan kata kita menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.
Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an dalam bimbingan yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga penanaman adab dan akhlak mulia, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama Qur’an Learning Center Yogyakarta. Mari wujudkan impian menjadi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak Qur’ani.
Daftar Referensi
- Q.S. Taha: 44
- Q.S. Al-Mujadilah: 11
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


