Di tengah lautan semangat menuntut ilmu, seringkali kita terdorong oleh gelombang antusiasme yang membara. Hasrat untuk bertanya, keinginan untuk segera memahami, atau sekadar ingin berada di barisan terdepan. Namun, di antara riak-riak semangat itu, ada sebuah mutiara adab yang seringkali luput dari pandangan, sebuah permata yang justru menjadi timbangan keberkahan ilmu itu sendiri. Kunci pembukanya adalah sebuah adab mulia: menghormati hak orang lain dalam antrian ilmu.

Cerminan Iman dalam Sebuah Antrean

Antrean, dalam bentuk apa pun, adalah miniatur kehidupan sosial. Ia bukan sekadar barisan fisik, melainkan sebuah ujian tak terlihat bagi kerendahan hati, kesabaran, dan kemampuan kita untuk memuliakan sesama. Dalam konteks majelis ilmu, antrean untuk bertanya atau menyampaikan pendapat adalah panggung bagi karakter sejati seorang penuntut ilmu. Apakah kita memilih untuk menyerobot, merasa paling berhak, atau justru melapangkan dada untuk memberi kesempatan kepada saudara kita?

Di sinilah ruh itsar—mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi—menemukan manifestasinya yang paling agung. Allah SWT memuji kaum Anshar dengan sifat mulia ini, sebuah sifat yang lahir dari keimanan yang kokoh.

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini, meski berbicara dalam konteks penerimaan kaum Muhajirin, menyimpan prinsip universal. Mengutamakan orang lain, bahkan saat kita sendiri memiliki hajat yang sama, adalah ciri orang-orang yang beruntung. Keberuntungan yang tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga keberuntungan dalam bentuk keberkahan ilmu dan kemuliaan di sisi Allah.

Keteladanan Agung dari Lisan Rasulullah ﷺ

Pelajaran terindah tentang adab ini datang langsung dari sang mu’allim terbaik, Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau tidak hanya mengajarkan teori, tetapi mempraktikkannya dalam setiap detail interaksi. Sebuah riwayat yang dinukil dari kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn melukiskan dengan begitu jernih bagaimana Nabi ﷺ menjunjung tinggi prinsip ini.

Kisah Ansari dan Thaqafi: Pelajaran tentang Menghormati Hak Orang Lain dalam Antrian Ilmu

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki dari kaum Anshar datang terlebih dahulu kepada Nabi ﷺ untuk menyampaikan sebuah keperluan. Tak lama berselang, datang pula seorang lelaki dari kabilah Tsaqif. Melihat keduanya, Rasulullah ﷺ dengan kelembutan dan kebijaksanaannya yang tiada tara, berpaling kepada lelaki dari Tsaqif seraya bersabda:

يَا أَخَا ثَقِيفٍ، إِنَّ الْأَنْصَارِيَّ قَدْ سَبَقَكَ بِالْمَسْأَلَةِ، فَاجْلِسْ كَيْمَا نَبْدَأَ بِحَاجَةِ الْأَنْصَارِيِّ قَبْلَ حَاجَتِكَ

“Wahai saudara dari Tsaqif, sesungguhnya saudara Anshar ini telah mendahuluimu dalam bertanya (menyampaikan hajat). Maka duduklah, agar kami dapat memulai dengan keperluan saudara Anshar ini sebelum keperluanmu.”

Perhatikanlah keindahan adab yang diajarkan. Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan salah satunya. Beliau memuliakan keduanya. Kepada yang datang lebih dulu, haknya ditunaikan. Kepada yang datang belakangan, ia diberi pemahaman dengan tutur kata yang paling santun. Tidak ada yang merasa direndahkan, justru keduanya mendapatkan pelajaran berharga tentang keadilan dan ketertiban.

Bagaimana Kita Menerapkan Adab Menghormati Hak Orang Lain dalam Antrian Ilmu?

Pelajaran dari lisan Nabi ﷺ ini harus meresap ke dalam setiap sendi kehidupan kita sebagai penuntut ilmu. Praktik menghormati hak orang lain dalam antrian ilmu dimulai dari niat kita untuk memuliakan sesama saudara seiman dan mencari ridha Allah, bukan sekadar pujian atau pengakuan.

  • Di Majelis Tatap Muka: Ketika guru membuka sesi tanya jawab, lihatlah sekeliling. Adakah tangan lain yang terangkat lebih dulu? Adakah wajah yang tampak lebih gelisah karena memendam pertanyaan penting? Berilah isyarat, persilakan mereka. Kesabaran kita dalam beberapa detik bisa menjadi ladang pahala yang tak ternilai.
  • Di Ruang Kelas Digital: Adab ini juga berlaku di dunia maya. Jangan memotong pembicaraan, gunakan fitur “raise hand” sesuai urutan, dan hargai ketika orang lain sedang mengetik pertanyaan di kolom chat. Ruang digital tidak menghilangkan kewajiban kita untuk berakhlak mulia.
  • Saat Berinteraksi dengan Guru: Tunggulah saat yang tepat. Jangan memotong pembicaraan guru dengan murid lain hanya karena kita merasa pertanyaan kita lebih mendesak. Menunggu giliran adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada guru dan sesama penuntut ilmu.

Buah Manis dari Kesabaran Menanti Giliran

Mendahulukan orang lain dalam antrean ilmu bukanlah sebuah kekalahan atau kerugian. Justru sebaliknya, ia adalah sebuah investasi spiritual yang akan mendatangkan buah-buah manis. Bisa jadi, dengan mendengarkan pertanyaan orang lain terlebih dahulu, pertanyaan yang ada di benak kita ikut terjawab. Atau mungkin, Allah bukakan pemahaman yang lebih luas dari jawaban yang diberikan untuk orang lain.

Pada akhirnya, menghormati hak orang lain dalam antrian ilmu adalah tentang memurnikan niat kita dalam belajar. Kita belajar bukan untuk berkompetisi, melainkan untuk menjadi hamba yang lebih baik. Ilmu yang didasari oleh adab yang luhur akan menumbuhkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ia akan mempererat ukhuwah, bukan menumbuhkan persaingan yang tidak sehat. Inilah esensi dari keberkahan; ketika ilmu yang kita peroleh tidak hanya mengisi akal, tetapi juga menyucikan jiwa dan memperindah akhlak kita.

Mari kita latih diri untuk menjadi pribadi yang sabar dalam antrean, yang lapang dada memberi jalan bagi saudara kita, karena dari sanalah pintu-pintu keberkahan ilmu akan terbuka lebar.

 

Jika Anda merindukan sebuah lingkungan belajar Al-Qur’an yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga sangat menjunjung tinggi adab dan pembentukan karakter Islami, kami mengajak Anda untuk menjadi bagian dari keluarga besar kami. Di sini, kita belajar bersama untuk menjadi penjaga firman-Nya yang berakhlak mulia.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Hasyr: 9.
  • Al-Husayn ibn Al-Mansur Billah Al-Qasim ibn Muhammad. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,