Dalam setiap tapak perjalanan menuntut ilmu, ada gerbang kemuliaan yang hanya terbuka bagi mereka yang memegang teguh kunci-kunci adab. Bukan sekadar hafalan materi atau kecerdasan intelektual, namun kesungguhan dan adab penuntut ilmu adalah fondasi utama yang akan menentukan seberapa jauh cahaya pengetahuan akan menyinari hati dan pikiran kita. Sebuah perjalanan yang membutuhkan bukan hanya raga yang hadir, tetapi juga jiwa yang patuh dan hati yang merendah, demi meraih keberkahan ilmu yang tak ternilai.
Memuliakan Ilmu Dimulai dari Memuliakan Guru
Perhatikanlah sebuah permata yang begitu berharga; ia tidak akan diletakkan sembarangan. Demikian pula ilmu, ia adalah permata ruhani yang sangat luhur. Untuk mendapatkannya, kita harus memahami dan mempraktikkan adab kepada pembawanya, yaitu guru kita. Salah satu etika penting yang sering terabaikan adalah kepekaan terhadap kondisi psikis guru. Seyogianya, kita tidak membaca atau menyodorkan pelajaran kepada guru saat hati beliau sedang diliputi kesibukan, kebosanan, kegelisahan, kesedihan, kegembiraan yang berlebihan, kehausan, kantuk, kegelisahan, atau kondisi-kondisi lain yang dapat menghambat konsentrasi dan semangat beliau. Ini adalah wujud nyata dari kesungguhan dan adab penuntut ilmu yang sejati.
Sebaliknya, seorang penuntut ilmu yang bijak akan jeli dalam menangkap waktu-waktu luang dan kondisi prima guru, yaitu saat beliau dalam keadaan paling bersemangat dan lapang hati. Mengapa demikian? Karena ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya itu akan terpancar sempurna dari hati yang lapang menuju hati yang siap menerima. Memaksakan diri belajar di saat guru tidak dalam kondisi terbaik hanya akan membuat ilmu yang disampaikan tidak terserap dengan optimal, bahkan bisa jadi mengurangi keberkahannya.
Menguji Kesabaran, Mengukuhkan Adab
Mungkin ada kalanya, dalam perjalanan menuntut ilmu, kita akan mendapati guru kita bersikap kasar atau kurang baik. Ini adalah ujian yang tak terhindarkan bagi seorang penuntut ilmu. Namun, adab seorang murid adalah mampu menahan diri dari sifat keras dan akhlak buruk guru, dan tidak menjadikannya alasan untuk berhenti berguru atau meragukan kesempurnaan ilmu beliau. Justru, pada momen-momen seperti inilah kualitas kesungguhan dan adab penuntut ilmu diuji. Kita dituntut untuk mencari tafsiran yang benar atas perbuatan dan perkataan guru yang secara lahiriah mungkin tampak kurang elok.
Mampu melakukan hal ini bukanlah perkara mudah; ia hanya dapat dilakukan oleh mereka yang dianugerahi taufik yang melimpah, atau setidaknya tidak terputus taufiknya. Sebuah manifestasi keimanan yang dalam, bahwa guru adalah wasilah ilmu dari Allah. Bahkan, jika guru menunjukkan kekasaran, hendaknya sang muridlah yang terlebih dahulu memulai permintaan maaf, menunjukkan bahwa kesalahan ada padanya, dan celaan seharusnya tertuju padanya. Sikap ini, meski terasa berat, sejatinya lebih bermanfaat bagi diri murid di dunia maupun di akhirat, serta lebih membersihkan hati sang guru dari prasangka buruk.
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua lautan; atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun.” (Q.S. Al-Kahfi: 60)
Ayat ini, meskipun tidak secara langsung membahas adab guru-murid secara eksplisit, menunjukkan semangat dan kegigihan Musa dalam mencari ilmu dari Khidir. Perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan komitmen untuk terus belajar adalah bagian integral dari kesungguhan dan adab penuntut ilmu. Kisah Musa dan Khidir dalam surah Al-Kahfi secara keseluruhan mengajarkan tentang pentingnya kesabaran dan ketundukan seorang murid kepada gurunya, bahkan ketika sang guru melakukan hal-hal yang tampak janggal.
Kemuliaan di Balik Kerendahan Diri
Para ulama telah bersepakat dalam sebuah ungkapan bijak, “Barangsiapa yang tidak bersabar menghadapi ‘kehinaan’ dalam menuntut ilmu, maka sepanjang umurnya ia akan tetap berada dalam kegelapan kebodohan.” Sebaliknya, “Barangsiapa yang bersabar menghadapinya, maka urusannya akan berujung pada kemuliaan di akhirat dan di dunia.” Perkataan ini menggarisbawahi betapa pentingnya kerendahan hati dan ketahanan mental dalam proses belajar. Kesungguhan dan adab penuntut ilmu bukanlah jalan yang selalu mulus, namun penuh dengan liku ujian yang membentuk karakter. Ibarat sebatang pohon, ia harus diukir dan dipahat agar menghasilkan bentuk yang indah.
Diriwayatkan sebuah perkataan masyhur dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Aku merendahkan diri sebagai seorang penuntut ilmu, maka aku dimuliakan sebagai seorang yang dicari.” Sebuah kalimat yang penuh hikmah, yang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak didapatkan dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati dan kesabaran. Siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya kerendahan hati sesaat dalam menuntut ilmu, maka sepanjang hidupnya ia akan terus merasa terhina oleh kebodohan. Ini adalah hukum alam dan sunnatullah dalam meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.
Maka, mari kita renungkan, sudahkah kita menunjukkan kesungguhan dan adab penuntut ilmu yang demikian? Sudahkah kita menghargai waktu guru, bersabar atas kekurangannya, bahkan berinisiatif meminta maaf saat ada kesalahpahaman? Ilmu adalah anugerah, dan adab adalah wadah untuk menampungnya. Semakin baik adab kita, semakin lapang wadah ilmu yang akan kita miliki, dan semakin besar pula keberkahan yang akan kita peroleh.
Sebagai penutup, marilah kita jadikan setiap momen menuntut ilmu sebagai kesempatan untuk mengasah bukan hanya kecerdasan, tetapi juga hati dan jiwa. Dengan adab yang mulia dan kesungguhan yang tak tergoyahkan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan pintu-pintu hikmah dan ilmu yang luas bagi kita. Jika Anda tergerak untuk memperdalam Al-Qur’an dengan adab dan kesungguhan yang optimal, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat di mana setiap adab dan detail pembelajaran Al-Qur’an diperhatikan dengan seksama.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Q.S. Al-Kahfi: 60
- Perkataan masyhur dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
