Kalam Ilahi, Al-Qur’an, adalah permata terindah yang Allah titipkan kepada umat manusia. Setiap ayatnya adalah bimbingan, petunjuk, dan cahaya yang menerangi kegelapan. Namun, di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, terkadang kita luput dan tanpa sadar terjebak dalam perilaku yang justru mereduksi keagungan firman-Nya. Penting bagi kita untuk senantiasa sadar dan berusaha keras dalam Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dari Guyonan Duniawi, agar kemuliaannya tetap terjaga dalam hati dan perilaku kita.
Salah satu aspek penting dalam menjaga kemuliaan Al-Qur’an adalah menghindari penggunaan ayat-ayatnya untuk hal-hal yang tidak pada tempatnya, apalagi sekadar candaan atau analogi yang meremehkan. Para ulama terdahulu sangat menjaga adab ini. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fadha’ilul Qur’an oleh Abu Ubaid, dari Ibrahim, bahwa para sahabat dan tabi’in “membenci seseorang yang membaca sebuah ayat ketika ada sesuatu dari urusan dunia yang muncul.” Ini menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam memandang interaksi dengan Kalamullah.
Abu Ubaid kemudian memberikan ilustrasi yang sangat relevan. Beliau mencontohkan seseorang yang ingin bertemu temannya atau memiliki suatu keperluan, lalu keperluannya itu terpenuhi tanpa ia duga atau ia minta. Kemudian, ia berkata seolah-olah bercanda, “Jii’ta ‘ala qadarin ya Musa” (Engkau datang tepat waktu, wahai Musa), mengutip firman Allah dalam Surah Taha ayat 40. Perilaku semacam ini, menurut Abu Ubaid, termasuk dalam kategori “istikhfaf bil Qur’an,” yaitu meremehkan atau merendahkan Al-Qur’an. Ayat suci yang berisi mukjizat, pelajaran mendalam, dan janji-janji Allah, tidaklah layak dijadikan bahan gurauan ringan untuk urusan duniawi yang fana. Ini adalah salah satu bentuk nyata dari tidak Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dari Guyonan Duniawi.
Lalu, mengapa hal ini menjadi sedemikian penting? Al-Qur’an adalah wahyu langsung dari Sang Pencipta. Setiap hurufnya memiliki bobot makna yang tak terhingga dan kekuatan ilahiah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ (78) لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79)
“Sesungguhnya ia adalah Al-Qur’an yang mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 77-79)
Ayat ini menegaskan status Al-Qur’an yang agung, suci, dan terlindung. Bagaimana mungkin sesuatu yang memiliki kemuliaan sedemikian rupa kemudian kita perlakukan layaknya perkataan biasa yang bisa diselipkan dalam candaan sehari-hari? Ini bukan berarti kita harus kaku dan tidak boleh berinteraksi dengan orang lain, melainkan sebuah ajakan untuk menempatkan Al-Qur’an pada posisinya yang tertinggi dalam setiap interaksi dan perkataan kita.
Terkait dengan adab yang serupa, Ibn Shihab juga menyatakan, “Janganlah engkau mendebat dengan Kitabullah, dan jangan pula dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Abu Ubaid menjelaskan maksud dari perkataan ini: “Janganlah engkau menjadikan bagi keduanya (Al-Qur’an dan Sunnah) tandingan dari perkataan maupun perbuatan.” Pesan ini sangat fundamental. Al-Qur’an dan Sunnah bukanlah sekadar bahan diskusi yang setara dengan pandangan manusia, bukan pula landasan untuk pembenaran hawa nafsu atau perdebatan kusir. Keduanya adalah sumber kebenasan yang mutlak, yang darinya kita mengambil pelajaran dan menjadikannya pedoman hidup. Menjadikan keduanya sebagai tandingan berarti mereduksi otoritas ilahiahnya, sebuah tindakan yang berlawanan dengan upaya kita Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dari Guyonan Duniawi.
Membangun Kesadaran dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Lantas, bagaimana kita bisa menumbuhkan adab ini dalam diri kita? Langkah pertama adalah dengan memahami betapa dahsyatnya kalamullah. Sekiranya manusia benar-benar merenungi setiap ayat, ia akan merasakan getaran yang menggetarkan jiwa. Allah berfirman:
لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (Q.S. Al-Hasyr: 21)
Ayat ini menunjukkan keagungan Al-Qur’an yang luar biasa. Jika sebuah gunung saja bisa tunduk dan terpecah belah karena kebesaran Kalamullah, bagaimana mungkin hati manusia yang berakal tidak tergerak untuk memuliakannya? Kesadaran ini akan membimbing kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan yang melibatkan Al-Qur’an. Kita harus senantiasa berusaha Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dari Guyonan Duniawi, menjadikan setiap interaksi dengannya sebagai bentuk ibadah dan pengagungan.
Praktik Adab dalam Kehidupan Sehari-hari
Secara praktis, menjaga kemuliaan Al-Qur’an berarti:
- Tidak Menggunakan Ayat sebagai Candaan: Hindari mengutip ayat-ayat suci untuk tujuan humor atau menyindir. Setiap ayat memiliki konteks dan tujuan mulia yang harus dihormati.
- Berhati-hati dalam Diskusi Agama: Ketika berdiskusi tentang agama, jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber rujukan tertinggi, bukan sebagai alat untuk memenangkan perdebatan pribadi atau mencari pembenaran atas pandangan yang keliru.
- Merutinkan Tadabbur dan Tafsir: Dengan memahami makna dan konteks ayat secara mendalam, kita akan semakin merasakan keagungan Al-Qur’an dan secara otomatis akan memperlakukannya dengan lebih hormat.
- Menjaga Kebersihan Fisik dan Batin: Saat membaca atau menyentuh mushaf, pastikan diri dalam keadaan suci. Lebih dari itu, sucikan hati dari segala niat buruk dan kesombongan saat berinteraksi dengan firman Allah.
- Mendidik Generasi Mendatang: Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda tentang adab berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak dini, agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang benar dan sikap yang mulia terhadap Kitabullah.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita tidak hanya menjaga kehormatan Kalam Ilahi, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih bertakwa, bijaksana, dan santun. Al-Qur’an akan benar-benar menjadi petunjuk dan penawar bagi jiwa, membersihkan hati dari segala bentuk kesia-siaan, dan mengarahkan kita pada jalan kebenaran. Mari bersama-sama meneguhkan komitmen untuk Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dari Guyonan Duniawi dalam setiap hembusan napas dan untaian kata kita.
Adab terhadap Al-Qur’an adalah cerminan ketakwaan seseorang. Ketika hati kita dipenuhi dengan pengagungan terhadap firman Allah, maka lisan dan perbuatan kita pun akan selaras, mencerminkan kemuliaan yang tak terhingga dari Kitab Suci ini. Mari terus belajar, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dengan adab terbaik, agar keberkahan dan cahayanya senantiasa menyertai langkah hidup kita. Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an dengan metode yang teruji dan penuh adab, Qur’an Learning Center Yogyakarta menawarkan program Executive Tahfizh yang dirancang untuk membantu Anda berinteraksi dengan Kalamullah secara lebih mendalam dan bermakna.
Daftar Referensi
- Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Fadha’ilul Qur’an, bab “ما يستحب لحامل القرآن من إكرام القرآن وتعظيمه وتنزيهه”, halaman 123-124. (Link: https://shamela.ws/book/12524/132#p1)
- Al-Qur’an Surah Al-Waqi’ah: 77-79
- Al-Qur’an Surah Al-Hasyr: 21
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

