Pendahuluan

Rasulullah ﷺ merupakan utusan Allah SWT yang menyampaikan pesan-pesan Ilahiyyah dengan bahasa yang paling indah dan menyentuh. Salah satunya adalah hadits yang menggambarkan 4 jenis manusia berdasarkan hubungannya dengan Al-Qur’an.

Dalam riwayat sahih yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَثَلُ الذي يَقْرَأُ القُرْآنَ كالأُتْرُجَّةِ: طَعْمُها طَيِّبٌ، ورِيحُها طَيِّبٌ، والذي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كالتَّمْرَةِ: طَعْمُها طَيِّبٌ، ولا رِيحَ لَها، ومَثَلُ الفاجِرِ الذي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحانَةِ: رِيحُها طَيِّبٌ، وطَعْمُها مُرٌّ، ومَثَلُ الفاجِرِ الذي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ: طَعْمُها مُرٌّ، ولا رِيحَ لَها.

الراوي: أبو موسى الأشعري • البخاري، صحيح البخاري (٥٠٢٠) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٧٩٧) باختلاف يسير • شرح الحديث

“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah uttrujjah: rasanya enak dan baunya harum.
Orang yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma: rasanya enak, tapi tidak ada baunya.
Orang fajir (pendosa) yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah: baunya harum tapi rasanya pahit.
Dan orang fajir yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah: pahit rasanya dan tidak ada baunya.”

(HR. Bukhari No. 5020, Muslim No. 797)

Hadits ini menggugah. Ia menyentuh hati siapa saja yang ingin mengevaluasi hubungannya dengan Al-Qur’an. Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa yang ringan.

1. Orang yang Membaca Al-Qur’an dan Beramal Saleh — Seperti Buah Uttrujjah

Rasa enak, bau harum.
Inilah gambaran terbaik. Orang ini tidak hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tapi juga berusaha mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlaknya lembut, lisannya basah dengan zikir, hatinya hidup karena selalu terhubung dengan wahyu.

Bagaikan uttrujjah (jeruk bali manis): enak di dalam dan harum di luar. Keberadaannya menyenangkan, kepergiannya dirindukan. Ini adalah level ideal.

Apakah kita sudah seperti ini?

2. Orang yang Tidak Membaca Al-Qur’an Tapi Masih Beriman — Seperti Kurma

Rasa enak, tapi tidak ada baunya.
Orang ini beriman dan berakhlak baik, tetapi belum memiliki hubungan aktif dengan Al-Qur’an. Dia tidak rutin membaca atau mempelajarinya. Ia tetap memiliki rasa keimanan yang baik, namun belum memancarkan keindahan spiritual melalui Al-Qur’an.

Layaknya kurma: tetap bergizi dan manis, tapi tidak mengharumkan sekitarnya. Ini mengingatkan kita bahwa iman saja belum cukup, perlu dibarengi dengan Al-Qur’an agar diri menjadi cahaya bagi lingkungan.

3. Orang Fajir Tapi Membaca Al-Qur’an — Seperti Raihanah

Bau harum, tapi rasa pahit.
Ini peringatan bagi siapa pun yang membaca Al-Qur’an tapi belum meninggalkan kemaksiatan. Ia tampil Islami, suaranya merdu melantunkan ayat, namun perilakunya bertentangan dengan isi Al-Qur’an.

Bagaikan bunga raihanah: harum ketika dekat, tapi pahit saat dirasakan. Orang-orang mungkin terkesan oleh bacaannya, tapi tidak mendapatkan manfaat dari perbuatannya.

Mari kita jaga diri agar bacaan kita tidak hanya berhenti di lisan, tapi benar-benar hidup dalam amal.

4. Orang Fajir dan Tidak Membaca Al-Qur’an — Seperti Hanzhalah

Pahit dan tidak ada baunya.
Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Hatinya jauh dari Al-Qur’an, perbuatannya pun tidak mencerminkan akhlak Islam. Seperti buah hanzhalah (pahit, tak beraroma), kehadirannya tidak membawa kebaikan bagi diri maupun orang lain.

Jika seseorang berada pada level ini, maka satu-satunya solusi adalah taubat dan kembali pada Al-Qur’an. Karena seburuk-buruknya kondisi spiritual, masih ada harapan untuk berubah selama nyawa belum sampai tenggorokan.

Penutup

Hadits ini bukan sekadar perumpamaan, tapi cermin bagi jiwa. Setiap orang bisa menilai sendiri: sedang berada di posisi yang mana?

Apakah saya seorang pembaca Al-Qur’an yang mencerminkan kemuliaan isinya? Ataukah saya masih menjauh dari wahyu yang seharusnya membimbing hidup saya?

Jika Anda ingin memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an, tidak ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang.

Executive Tahfizh Quran Learning Center Yogyakarta membuka jalan bagi Anda untuk mulai menghafal, memahami, dan menghidupkan Al-Qur’an dalam diri Anda.

Ingin Jadi Seperti Buah Uttrujjah?

Mulailah langkah perubahan Anda bersama program tahfizh dewasa di Executive Tahfizh Yogyakarta. Dengan metode belajar yang efektif, pengajar berpengalaman, dan komunitas yang suportif, Anda akan dibimbing menuju kedekatan hakiki dengan Al-Qur’an.

Alamat: Jl. Taman Siswa, Gg. Warsokusumo, RT 54 RW 17, Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta
Website:www.executivetahfizh.com
WhatsApp: +6281224003100

Penulis:
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Quran Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

Karantina Tahfidz Nasional Jogja
Karantina Tahfidz Nasional Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri