Tiga Golongan Manusia yang Wajib Dimuliakan
Di tengah derasnya arus zaman, siapakah sosok yang paling berhak kita hormati? Saat nilai-nilai adab terkadang terasa memudar, Islam datang sebagai kompas yang menuntun hati. Sebuah nasihat berharga dari khazanah klasik Islam menyoroti kewajiban memuliakan penghafal Al-Qur’an sebagai salah satu dari tiga golongan utama yang harus kita agungkan. Mari kita selami bersama, siapakah mereka dan mengapa kemuliaan mereka begitu istimewa dalam pandangan agama kita.
Nasihat Agung dari Ibnu Abi Mulaykah
Dalam salah satu kitab monumental yang membahas keutamaan Al-Qur’an, yakni Fadha’il al-Qur’an, Imam Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam meriwayatkan sebuah atsar yang begitu menyentuh. Sebuah pesan kebijaksanaan dari seorang tabi’in mulia, Ibnu Abi Mulaykah, yang menjadi pelita bagi kita dalam bersikap.
ثَلَاثَةٌ حَقَّ عَلَيْكَ تَوْقِيرُهُمْ: ذُو السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ، وَذُو الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلُ الْقُرْآنِ
“Ada tiga golongan yang wajib engkau muliakan: pemimpin yang adil, seorang Muslim yang telah beruban (lanjut usia), dan penghafal Al-Qur’an (haamilul Qur’an).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadha’il al-Qur’an)
Nasihat ini, meski singkat, membentangkan tiga pilar kehormatan dalam struktur masyarakat Islam. Ia bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah penegasan akan hak (haqq) mereka untuk kita muliakan. Mari kita bedah satu per satu makna di baliknya.
Tiga Pilar Kemuliaan di Tengah Umat
Setiap golongan yang disebutkan memiliki alasan agung mengapa mereka pantas mendapatkan tempat terhormat dalam hati dan adab kita.
1. Pemimpin yang Adil (Dzus Sulthanil Muqsith)
Seorang pemimpin yang adil adalah rahmat bagi negerinya. Di tangannya, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Di bawah kebijakannya, yang lemah terlindungi dan yang kuat terkendali. Ia adalah payung keteduhan bagi umat, memastikan stabilitas dan keamanan agar setiap jiwa dapat beribadah dengan tenang. Memuliakannya adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas nikmat keteraturan dan keadilan dalam kehidupan bersama.
2. Muslim yang Beruban (Dzus Syaibatil Muslim)
Uban di kepala seorang Muslim bukanlah sekadar tanda penuaan. Ia adalah lukisan perjalanan panjang seorang hamba dalam ketaatan. Setiap helainya seolah menjadi saksi atas ribuan sujud, puluhan tahun puasa, dan lautan zikir yang telah dilaluinya. Menghormati mereka yang lebih tua, yang rambutnya telah memutih dalam keislaman, adalah bagian dari mengagungkan Allah. Kita menghormati ilmu, hikmah, dan jejak ibadah yang telah mereka ukir sepanjang hayat.
3. Penghafal Al-Qur’an (Haamilul Qur’an)
Inilah puncak kemuliaan yang terkait langsung dengan Kalamullah. Istilah yang digunakan, Haamilul Qur’an (pembawa Al-Qur’an), memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar penghafal. Mereka adalah orang-orang yang dadanya dipilih Allah menjadi ‘wadah’ untuk firman-firman-Nya. Mereka adalah perpustakaan berjalan yang menjaga kemurnian wahyu ilahi.
Maka, kewajiban memuliakan penghafal Al-Qur’an sesungguhnya adalah cerminan dari pengagungan kita terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Bagaimana mungkin kita mencintai surat cinta dari Allah, namun tidak memuliakan mereka yang menjaganya di dalam hati dan lisan? Menghormati mereka adalah cara kita berkata, “Ya Allah, kami mencintai firman-Mu dan kami memuliakan siapa pun yang Engkau pilih untuk membawanya.” Inilah mengapa kewajiban memuliakan penghafal Al-Qur’an menjadi salah satu tolok ukur keimanan kita.
Refleksi dan Jalan Menuju Kemuliaan
Ketiga golongan ini adalah tiang-tiang kebaikan dalam masyarakat. Jika pemimpin adil, orang tua dihormati, dan para Ahlul Qur’an diagungkan, maka keberkahan akan turun menyelimuti negeri. Pertanyaannya kini kembali kepada kita: sudahkah kita menunaikan hak mereka? Sudahkah kita memberikan porsi kemuliaan yang layak bagi mereka dalam interaksi kita sehari-hari?
Lebih dari itu, pesan ini sejatinya juga sebuah undangan. Undangan bagi kita untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku. Sebuah panggilan jiwa untuk turut serta menapaki jalan kemuliaan, terutama dengan menjadi seorang Haamilul Qur’an. Karena memahami kewajiban memuliakan penghafal Al-Qur’an adalah satu hal, namun berjuang untuk menjadi salah satu dari mereka adalah puncak kerinduan seorang hamba.
Perjalanan menjadi keluarga Al-Qur’an bukanlah mimpi yang mustahil, bahkan di tengah kesibukan duniawi. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami membersamai para eksekutif dan profesional untuk meraih cita-cita mulia tersebut, menapaki tangga kemuliaan sebagai penjaga firman-Nya.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

