Ada kalanya kita bertanya-tanya sendiri: benarkah cara mengagungkan Allah hanya soal apa yang kita ucapkan saat berdzikir, atau seberapa lama kita bersujud? Semakin direnungkan, semakin terasa bahwa pengagungan kepada-Nya justru banyak teruji dalam hal yang tampak sederhana — cara kita memperlakukan sesama manusia. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari membuka tiga pintu untuk membuktikan hal ini, dan salah satunya menyentuh langsung hati para penjaga Kalam-Nya: kemuliaan penghafal Al-Qur’an.
Hadits ini diabadikan oleh Abu ‘Ubaid dalam kitabnya Fadha’il al-Qur’an. Isinya sederhana untuk dibaca, tapi dalam untuk direnungkan — tentang adab-adab luhur yang seringkali justru terlewat dari perhatian kita sehari-hari.
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ تَعَالَى إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِي عَنْهُ، وَذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang telah beruban (lanjut usia), menghormati penghafal Al-Qur’an yang tidak berlebihan padanya dan tidak menjauhinya, serta menghormati pemimpin yang adil.” (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Cara Mulia Mengagungkan Allah dan Para Penghafal Qur’an
Hadits ini memberikan peta yang sangat konkret. Mengagungkan Allah (ijlalillah) bukan konsep abstrak yang hanya bersemayam dalam hati atau lisan, melainkan amal yang membumi — bisa disentuh dan dipraktikkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Ada tiga golongan yang, dengan memuliakan mereka, kita sejatinya sedang memuliakan Allah Ta’ala.
1. Memuliakan Muslim yang Beruban
Uban di kepala seorang muslim bukan sekadar tanda usia bertambah. Ia adalah jejak waktu — rekaman diam dari sujud-sujud yang tak terhitung, saksi bisu dari ribuan fajar dan senja yang telah dilalui dalam ketaatan. Ada semacam kedalaman yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun yang belum menjalani perjalanan sepanjang itu. Menghormati mereka bukan hanya soal tata krama, tetapi cara kita mengakui perjalanan panjang ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya. Dalam senyum dan tutur kata lembut kepada mereka, terpancar penghormatan kepada Zat yang telah memanjangkan usia mereka dalam Islam.
Kita sering lupa bahwa kesabaran menghadapi orang yang lebih tua — mendengarkan cerita yang mungkin sudah berulang, melambatkan langkah saat berjalan bersama mereka, atau sekadar menyapa dengan nada yang lembut — adalah ibadah yang nilainya tersembunyi. Tidak spektakuler, tapi justru di situlah keagungan Allah dirasakan lewat perantara mereka.
2. Cahaya Kemuliaan Penghafal Qur’an
Inilah bagian yang paling menyentuh dari hadits ini. Memuliakan haamilil qur’an — penghafal Al-Qur’an — adalah bagian dari mengagungkan Allah. Alasannya sederhana namun dalam: di dalam dada mereka tersimpan Kalamullah yang suci. Mereka semacam “perpustakaan berjalan” yang menjaga firman-firman-Nya, hidup dan bergerak di tengah manusia.
Namun perhatikan betapa indahnya Islam meletakkan dua batasan penting dalam kehormatan ini — bukan kehormatan tanpa syarat, melainkan kehormatan yang menuntut kelayakan:
Tidak ghuluw (berlebihan). Seorang penghafal Al-Qur’an yang layak dimuliakan adalah ia yang tidak melampaui batas — tidak menafsirkan ayat menurut hawa nafsunya sendiri, tidak bersikap ekstrem, dan tidak menjadikan hafalannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Al-Qur’an yang bersemayam di dadanya seharusnya melahirkan ketawadhuan, bukan kesombongan. Semakin banyak ayat yang dihafal, semestinya semakin rendah hati pula sikapnya kepada sesama.
Tidak jafa’ (menjauhinya). Kehormatan itu juga terikat syarat bahwa ia tidak “mengabaikan” Al-Qur’an setelah menghafalnya. Artinya, hafalan bukan sekadar memori yang tersimpan lalu dibiarkan berdebu, melainkan panduan hidup yang terus dihidupkan. Ia mengamalkan isinya, menjaga adabnya, dan terus membersamai Al-Qur’an dalam kesehariannya — bukan hanya saat murajaah, tapi dalam cara ia berbicara, bersikap, dan mengambil keputusan. Tanpa pengamalan, hafalan itu ibarat jasad tanpa ruh: bentuknya ada, tapi kehidupannya tiada.
Maka kemuliaan penghafal Al-Qur’an sejati bukan terletak pada jumlah juz yang dikuasai, melainkan pada akhlaknya yang qur’ani. Menghormati sosok seperti inilah yang menjadi cerminan pengagungan kita kepada Allah, Sang Pemilik Kalam tersebut.
3. Menghormati Pemimpin yang Adil
Seorang pemimpin yang adil adalah bayang-bayang keadilan Allah di muka bumi. Melalui kebijakan dan keputusannya, ia menjaga hak orang-orang lemah, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan menciptakan kemaslahatan bagi orang banyak. Keadilan adalah salah satu sifat Allah (Al-‘Adl). Maka mendukung, menghormati, dan mendoakan pemimpin yang adil adalah wujud nyata dari kecintaan kita pada tegaknya sifat-sifat Allah dalam kehidupan bermasyarakat — bukan sekadar kepatuhan politik, tetapi bagian dari keimanan yang termanifestasi secara sosial.
Menjemput Kemuliaan Itu
Ketiga pintu ini mengajarkan sebuah esensi iman yang matang: iman yang tidak hanya terwujud dalam ritual pribadi antara seorang hamba dan Tuhannya, tetapi juga termanifestasi dalam adab sosial yang luhur. Hadits ini seolah mengingatkan bahwa jejak-jejak keagungan Allah bisa dilihat pada hamba-hamba pilihan-Nya yang hidup di sekeliling kita — orang tua yang beruban, penjaga Al-Qur’an yang rendah hati, dan pemimpin yang menegakkan keadilan.
Melihat betapa tingginya kedudukan penghafal Al-Qur’an di sisi Allah, dan bagaimana memuliakan mereka menjadi bagian dari mengagungkan-Nya, tentu ada sesuatu yang tergerak dalam hati untuk turut menjadi bagian dari keluarga Al-Qur’an. Ini bukan sekadar tentang menghafal ayat demi ayat, tetapi tentang sebuah proses transformasi diri menuju pribadi yang berakhlak qur’ani — sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar pencapaian target hafalan.
Perjalanan semacam ini tentu membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang tepat — sebuah tempat di mana Al-Qur’an tidak hanya dihafal, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam setiap sendi kehidupan. Jika ada dorongan dalam diri untuk menapaki jalan penuh berkah ini, meraih kemuliaan sebagai penjaga Kalamullah, mungkin inilah saatnya mengambil langkah pertama itu.
Mari bersama-sama memulai perjalanan agung ini di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat belajar menjadi penjaga Kalamullah yang rendah hati dan senantiasa dekat dengan petunjuk-Nya.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

