Wisuda Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional Angkatan ke-3

Alhamdulillaah, puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta shalawat serta salam semoga tercurah atas nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pada hari ini, Selasa 19 Rabi’ul Awwal 1443 bertepatan dengan 26 Oktober 2021, dilaksanakan PROSESI WISUDA Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional Angkatan ke-3 , bertempat di Executive Tahfizh Center, Wirogunan, Yogyakarta

Tepat pukul 08.00 wali santri serta keluarga telah hadir di tengah-tengah wisudawan, yang pada Angkatan ke-3 kali ini seluruhnya berjumlah 9 orang wisudawan yang akan diwisuda.

Dalam acara ini, hadir perwakilan dari BAITUL MAL MUAMALAT perwakilan Yogyakarta, bapak Ahmad Solihin yang telah memberikan Sambutan dan Wejangan kepada seluruh wisudawan. Beliau berharap, para wisudawan peserta karantina tahfizh terus melanjutkan perjuangan mereka dalam menghafal Al-Qur’an, meskipun telah selesai masa karantina.

Di awal acara, juga dilantunkan Tilawah Al-Qur’an yang sangat indah, oleh bapak Amir Mahmud , yang merupakan peserta asal Sampit, Kalimantan Tengah. Yang kemudian, acara dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya oleh seluruh hadirin.

Di tengah acara, disampaikan Sambutan dan Progress Report oleh Direktur Executive Tahfizh Center, ustadz Kharis Nugroho, Lc., MA.

Setelah rangkaian demi rangkaian acara, PROSESI WISUDA-pun dimulai dengan khidmat oleh seluruh peserta. Satu per satu wisudawan disebutkan namanya untuk melakukan penyerahan Syahadah dari Muhaffizh pendamping serta dilakukan dokumentasi.

Alhamdulillaah, terdapat 1 peserta yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz pada Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional Angkatan ke-3 kali ini, beliau atas nama Kurnia Rachman Dzul Hastyanto, peserta asal Bekasi.

Semoga, ilmu dan hafalan yang didaptkan oleh seluruh peserta, dapat menjadi berkah dan bermanfaat untuk masa depan Agama, bangsa dan negara. Aamiin ya Rabbal Alamin

Keutamaan Menghafalkan Al-Qur’an

Keutamaan Menghafalkan Al-Qur’an

Motivasi Menghafal Al-Qur’an

Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan tentang keutamaan Al-Qur’an, mempelajari, dan menghafalkannya. Supaya pembahasan ini lebih singkat maka hadits tentang menghafal al quran berikut ini hanya ditampilkan sebagian hadits Rasulullah SAW mengenai keutamaan Al-Qur’an.

  1. Al-Qur’an adalah sebaik-baik ucapan

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah perbuatan yang diada-adakan (dalam agama) dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)

  1. Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar AlQuran dan mengajarkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Quran dan  mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

  1. Al-Qur’an akan memberi syafaat

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

  1. Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para malaikat

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)

  1. Orang yang membaca Al-Quran diibaratkan seperti buah utrujjah yang luarnya wangi dan dalamnya manis

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma; tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti tumbuhan raihaanah (kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti tumbuhan hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Membaca satu atau dua ayat Al-Qur’an lebih baik daripada memperoleh satu atau dua ekor onta yang besar

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada para sahabat:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ

Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Al-Qur’an? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik daripada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan (jika lebih) sesuai jumlah itu dari beberapa ekor onta.” (HR. Muslim)

  1. Rahmat dan ketenteraman akan turun ketika berkumpul membaca Al-Qur’an

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketenteraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

  1. Membaca satu huruf Al-Qur’an akan memperoleh sepuluh kebaikan

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HR. Tirmidzi).

  1. Pembaca Al-Qur’an akan ditinggikan derajatnya

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Akan dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an “Bacalah dan naiklah (ke derajat yang tinggi), serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca.”  (Hasan shahih, HR. Tirmidzi)

  1. Dengan Al-Qur’an, Allah meninggikan suatu kaum dan dengannya pula Allah merendahkan suatu kaum

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Al-Qur’an ini dan merendahkan juga karenanya.” (HR. Muslim)

  1. Orang yang membaca Al-Qur’an secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اَلْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

Orang yang membaca Al-Qur’an terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Al-Qur’an  secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Bagi orang yang khawatir riya’ lebih utama membacanya secara sembunyi. Namun jika tidak khawatir, maka lebih utama secara terang-terangan.

  1. Para penghafal Al-Qur’an dimuliakan oleh Islam

  • Penghafal Al-Qur’an lebih berhak diangkat menjadi imam

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hendaknya yang mengimami suatu kaum itu orang yang paling banyak (hafalan) terhadap Kitab Allah Ta’ala (Al-Qur’an). Jika mereka sama dalam hafalan, maka yang lebih mengetahui tentang sunah. Jika mereka sama dalam pengetahuannya tentang sunah, maka yang paling terdepan hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling terdepan masuk Islamnya –dalam riwayat lain disebutkan “Paling tua umurnya”-, janganlah seorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya, dan janganlah ia duduk di tempat istimewa yang ada di rumah orang lain kecuali dengan izinnya.
(HR. Muslim)

  • Mereka lebih didahulukan dimasukkan ke dalam liang lahad, jika banyak orang yang meninggal. Pada saat perang Uhud banyak para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang gugur, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar yang lebih didahulukan dimasukkan ke liang lahad adalah para penghafal Al-Qur’an.
  • Berhak mendapatkan penghormatan di masyarakat.
    Oleh karena itu, di zaman Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, para penghafal Al-Qur’an duduk di majelis musyawarahnya.
  • Berhak diangkat menjadi pimpinan safar.
    Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Hadits Hasan bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallampernah mengirim utusan beberapa orang, lalu beliau meminta masing-masing untuk membacakan Al-Qur’an, maka mereka pun membacakan Al-Qur’an. Ketika itu ada anak muda yang ternyata lebih banyak hafalannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Surat apa saja yang kamu hafal, wahai fulan?” Ia menjawab: “Saya hafal surat ini, itu dan surat Al Baqarah.” Beliau berkata: “Apakah kamu hafal surat Al Baqarah?” Ia menjawab: “Ya.” Maka Beliau bersabda: “Berangkatlah, kamulah pemimpinnya.”

Ketika itu ada seorang yang terkemuka di antara mereka berkata: “Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surat Al-Baqarah selain karena khawatir tidak sanggup mengamalkannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ، وَاقْرَأُوْهُ فَاِنَّ مَثَلُ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ أُوْكِىَ عَلَى مِسْكٍ

Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan Al-Qur’an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, di mana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Al-Qur’an ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat.”

  1. Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai Al-Qur’an

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah: “Jika ia mencintai Al-Qur’an, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Thabraniy dengan isnad, dan para perawinya tsiqah)

Utsman bin ‘Affan berkata, “Kalau sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan kenyang (membaca) kitabullah.”

Begitu banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi siapa saja yang mempelajari Al-Qur’an. Semoga ini akan menjadi dasar motivasi yang kuat untuk menghafal Al-Qur’an ikhlas hanya karena Allah Subhanahu Wata’ala.

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Sesungguhnya upah yang paling benar kalian terima adalah Kitabullah”  (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar mengatakan bahwa jumhur ulama telah berdalil dengan hadits ini di dalam membolehkan mengambil bayaran dari mengajarkan Al-Qur’an.

Imam ash Shon’ani mengatakan bahwa Jumhur ulama, Malik dan Syafi’i membolehkan mengambil upah dari mengajarkan Al Qur’an baik orang yang belajarnya adalah anak kecil atau orang dewasa seandainya hal itu dapat membantu si pengajar di dalam pengajarannya berdasarkan hadits di atas. Hal ini diperkuat lagi dengan apa yang disebutkan di dalam bab nikah di mana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan seseorang untuk mengajarkan istrinya Al Qur’an sebagai mahar baginya. Hadits tentang menghafal Al Quran dapat dilihat di sini.

Syarat Agar Sebulan Mampu Menghafal 30 Juz, Insyaa Allah

Syarat Agar Sebulan Mampu Menghafal 30 Juz, Insyaa Allah

Menghafal Al-Quran sebulan 30 juz bagi semua orang yang memenuhi persyaratan merupakan suatu keniscayaan. Setiap ikhtiar yang dilakukan tidak akan menghianati hasil. Ini merupakan hukum sebab akibat, merupakan sunnatullah yang berlaku pada siapa pun yang melakukannya. Bahkan jaminan kemudahan menghafal Al-Quran juga sudah di bahas di artikel sebelumnya.

Agar dalam waktu sebulan peserta mampu mengkhatamkan hafalan 30 juz dengan setoran hafalan per halaman maka ada beberapa rahasia yang hendak dibuka dalam tulisan ini.

Proses karantina tahfizh harus mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional (YKTN Pusat) sebagai pelaksana Program Karantina Hafal Quran Sebulan.

Syarat Agar Sebulan Mampu Menghafal 30 Juz:
1. Mampu membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.
2. Disiplin mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP)
3. Menjaga kesehatan fisik, mental, dan ruhiyah.
4. Menguasai tata bahasa Arab minimal mampu imla’i dan nahwu sharaf.

Jika kendala peserta adalah nomor 4 maka alternatifnya yaitu Metode Yadain Litahfizhil Qur’an yang membagi pemahaman tadabbur terjemah 30 juz dalam visualisasi kiri (batil) dan kanan (haq), juga teknik menghafal 1 detik 4 mufradat.

Jika kendalanya nomor 3 maka diatasi secara medis, hipnotahfizh, bahkan ruqyah syar’iyah dan berdoa dengan khusyuk.

Jika kendalanya nomor 2 maka dengan meningkatkan kedisiplinan diri dalam menghafal Al-Quran sesuai SOP-nya.

Jika kendalanya nomor 1 maka belajarlah membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid, baik teori maupun praktik.

Pengalaman belajar setiap orang berbeda-beda walaupun ia berada di dalam satu kelas. Bahkan meskipun satu guru satu ilmu tetapi saat penyerapan materi pembelajaran memiliki cara yang unik khas submodality (modalitas belajar) masing-masing orang. Begitu pula dengan menghafal Al-Qur’an, cara setiap orang unik dan berbeda-beda namun ada prinsip dasar yang sama.

Ketika prinsip-prinsip dasar yang sama ini dilakukan oleh orang yang berbeda maka akan menunjukkan hasil yang kurang lebih sama atau lebih mendekati keberhasilan yang sama.

Target hafalan peserta sudah dapat diprediksi dari kualitas bacaan Al-Quran, dengan catatan tetap disiplin, menjaga kesehatan dan mempraktikkan metodenya.

Target hafalan Peserta

  1. Level Tahsin hafalan yang diperoleh antara 1-5 juz sebulan.
  2. Level Tahsin dan Tahfizh hafalan yang diperoleh antara 6-15 juz sebulan.
  3. Level Tahfizh hafalan yang diperoleh antara 16-30 juz sebulan.
  4. Level Murojaah dan Ziyadah hafalan 30 juz kurang dari sebulan.
  5. Level Mutqin hafalan yang diperoleh 30 juz disimak per 10 juz.

Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita semua dalam segala hal. Aamiin.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

24 Rahasia 30 hari hafal 30 Juz, Biidznillah

24 Rahasia 30 hari hafal 30 Juz, Biidznillah

Pada bagian ini kita akan membahas mengenai 24 Rahasia Karantina Hafal Quran Sebulan. Salah satunya yaitu: Rahasia 30 hari hafal 30 Juz yaitu perhitungan hafalan Al-Quran 30 Juz dibagi 30 hari (sebulan) = 1 juz/hari.

Itu tidak masuk akal?…

Memang tidak masuk akal dan perhitungannya juga tidak seperti itu.

Sebab ada banyak faktor yang menyebabkan kita bisa menghafal Al-Qur’an dalam waktu singkat. Artikel ini sudah dibahas di sini.

Sebagian orang menutup diri dari melogika-kan hal ini dengan mengatakan bahwa itu karunia Allah bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah saja sehingga bisa mudah.

Ya!… itu benar.

Tidak semua hal harus masuk logika. Tetapi mari kita renungkan.

  1. Kosakata pada surat Al-Fatihah setidaknya berulang sebanyak 7500 kali dalam Al-Qur’an.
  2. Kosakata pada surat Al-Baqarah merupakan 80% kosakata dalam Al-Qur’an.
  3. 100 kata dan turunannya ditemukan dalam bacaan salat yang mewakili 40.000 kosakata Al-Qur’an.
  4. Kosakata Al-Qur’an ada kurang lebih 77.400 kosakata Al-Qur’an dan itu bisa dikatakan kosakata intinya hanya ada 6000 kata saja.
  5. Visualisasi tadabbur Metode Yadain hanya cukup membayangkan kiri atau kanan saja dapat mewakili 77.400 kosakata Al-Quran = 30 Juz. Singkatnya bahwa 30 juz hanya berisi pemahaman kiri dan pemahaman kanan.
  6. Jika belum bisa bahasa Arab maka tidak perlu menerjemahkan cukup gambarkan dalam imajinasi terjemah per kata dan per makna seperti membaca novel dan tata tertib atau peraturan.
  7. Ayat-ayat yang awalnya sulit dihafalkan justru akan menjadi kemudahan saat bertemu ayat yang mirip atau sama.
  8. Persebaran akar kata dalam Al-Qur’an
    – Hafalan awal 1 juz ada kurang lebih 20 akar kata/halaman
    – Hafalan awal 2 s/d 5 Juz ada kurang lebih 12 akar kata/halaman
    – Hafalan awal 6 s/d 28 Juz ada kurang lebih 6 akar kata/halaman
    – Hafalan awal 29 s/d 30 Juz ada kurang lebih 20 akar kata/halaman
  9. Jika 3 juz dilakukan sesuai dengan visualisasi tadabbur dan Al-Quran Virtual metode Yadain maka akan memudahkan 27 juz berikutnya atas izin Allah.
  10. Kosakata yang sulit dihafal itu adalah kosakata baru, harus bahagia dan bersyukur saat menghafal dan ketika berhasil menghafalkannya.
  11. Kosakata yang mudah dihafal itu adalah pengulangan kosakata sehingga cukup merangkai dengan kosakata baru melalui visualisasi tadabbur.
  12. Kosakata yang lancar dihafalkan itu adalah halaman yang telah dibaca berulang menggunakan tadabbur.
  13. Jika metode menghafalnya dilakukan dengan tepat maka melancarkan kembali hafalan Al-Qur’an itu akan menjadi lebih nikmat sebab bertambahnya kelancaran plus bonus bertambah pemahaman. Biasanya membutuhkan waktu 5-15 menit untuk memunculkan hafalan yang pernah disetorkan di karantina tahfizh.
  14. Jika seorang peserta karantina tahfizh di hari pertama mampu menyetorkan hafalan 23 halaman, kemudian hari ke 2 mampu setoran 7 halaman, hari ke 3 setoran 8 halaman, hari ke 4 setoran 9 halaman dan seterusnya dengan rumus n+1 (hari ini berapa halaman besok bertambah 1 halaman lebih banyak dari hari ini) maka dimungkinkan akan khatam 30 Juz dalam waktu kurang dari 30 hari.
  15. Durasi total waktu yang dibutuhkan untuk karantina tahfizh adalah 35 hari karena ada acara daftar ulang, pembukaan, pembekalan metode, rihlah, libur setengah hari Jumat dan hari wisuda.
  16. Jika mematuhi tata tertib dan menjalankan metodenya tanpa mengkritisi sejak proses awalnya di karantina tahfizh biasanya peserta mampu setoran hafalan Al-Qur’an 30 Juz dalam waktu sebulan atau kurang. Adapun jika ada saran kritik yang membangun maka lebih baik disampaikan di hari akhir sehingga sejak awal tidak disibukkan oleh selain konsentrasi dari menghafal Al-Qur’an.
  17. Sebelum memutuskan untuk ikut karantina tahfizh Al-Qur’an di www.hafalquransebulan.com alangkah lebih baiknya jika memperbaiki kualitas tahsin terlebih dahulu supaya menghafalkannya lebih ringan.
  18. Keyakinan dan tekad pribadi sangat dibutuhkan dan upayakan minat itu datang dari diri sendiri
  19. Melibatkan Allah dalam segala proses menghafal Al-Qur’an menyebabkan kemudahan menghafal Al-Qur’an menjadi semakin terbuka dengan penuh rasa syukur dan nikmat atas karunia Allah Subhanahu Wata’ala.
  20. Allah melihat upaya peserta yaitu 10-12 jam per hari untuk menghafal Kalam-Nya oleh karena itu jangan jadikan target 30 Juz sebagai beban melainkan selesaikan terlebih dahulu target durasi yang disediakan.
  21. Selalu bersyukur pada Allah bahwa hafalan Al-Qur’an ini adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala maka tidak akan merasakan kegagalan sekalipun target sebulan hanya tercapai misalnya 10 Juz, 15 Juz, 20 Juz maupun 29 juz. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah manakala pasca karantina semakin cinta dengan Al-Qur’an.
  22. Muraja’ah adalah proses pengulangan hafalan terus menerus seumur hidup dan ini adalah kewajiban terus menerus. Kewajiban artinya kita mendulang pahala yang hukumnya wajib sehingga semakin banyak mengulang semakin banyak pahala dan hafalan pun semakin Allah lancarkan dalam hati, pikiran dan lisan.Bahkan berpengaruh pada pemahaman dan perbuatan.
  23. Jika di karantina tahfidz setiap setoran 1 halaman maka saat di rumah minimal setiap kali setoran muraja’ah adalah 5 halaman/hari sehingga dalam waktu 6 bulan bisa khatam, setelah khatam barulah melancarkan per 10 halaman, per 20 halaman, per 2 juz, per 3 juz dan seterusnya sampai mutqin 30 Juz. Aamiin
  24. Jangan hanya mengejar kecepatan ketika menghafal Al-Qur’an melainkan kejarlah kenikmatan membacanya sehingga pengulangan hafalan tidak akan dirasakan sebagai beban namun nikmat yang luar biasa dan bonusnya adalah lancarnya hafalan setelah proses pengulangan terus menerus. Nikmati prosesnya dan dapatkan hasilnya. Aamiin

 

Renungkanlah baik-baik sebelum memutuskan untuk mendaftarkan diri di Executive Tahfizh Center Yogyakarta

Definisi yang digunakan di Pusat Karantina Tahfizh Al Quran Nasional

Definisi yang digunakan di Pusat Karantina Tahfizh Al Quran Nasional

Sebelum melakukan aktivitas menghafal Al-Quran, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu istilah yang digunakan di Pusat Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional dalam proses menghafal Al-Quran. Setiap lembaga memiliki istilah-istilah tersendiri namun di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional berikut ini merupakan definisi-definisi yang akan ditemukan.

 

Definisi Muhaffizh dan Muhaffizhah

Muhaffizh adalah bentuk “mashdar” حَفِظَ – يَحْفَظُ kata “hafizha yahfazhu” (menghafal). Bila diterjemahkan, maknanya menjadi : sesuatu yang membuat Anda hafal. Artinya, orang yang bisa membuat orang lain bisa menghafal Al-Qur’an. Istilah muhaffizh lebih melekat pada ustadz yang menyimak, memotivasi, dan memperbaiki hafalan Al-Quran.

Muhaffizhah adalah sama seperti istilah muhaffizh, hanya saja disematkan pada ustadzah atau perempuan yang menyimak, memotivasi, dan memperbaiki hafalan Al-Quran.

 

Definisi Al-Hafizh, Hafizh Al-Qur’an, dan Hamilul Quran

Al-Hafizh atau Hafizh Al-Qur’an adalah gelar yang ditujukan kepada orang yang telah mampu menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an adalah suatu kemampuan untuk mempelajari dan mengingat tulisan, bunyi, dan terjemah dari ayat-ayat Al-Quran.

Semula gelar Al-Hafizh disematkan pada orang yang hafal 100.000 hadist beserta sanad dan matannya yang tentunya juga hafal Al-Quran. Akan tetapi pada perkembangan berikutnya Al-Hafizh di Indonesia lebih identik pada orang yang selalu menjaga hafalan Al-Quran 30 juz.

Hamilul Quran berasal dari bahasa Arab dari kata حمل يحمل. Sehingga Hamilul Quran adalah orang yang membawa Al-Qur’an dalam hafalannya. Orang Hamilul Quran tidak pernah meninggalkan membaca, mempelajari, mengamalkan kitab suci Al-Quran dalam keadaan apa pun dan dimana pun. Membaca dan mengkaji Al-Qur’an adalah kebutuhan hidup bagi orang model ini.

 

Definisi Ziyadah dan Muraja’ah / Murojaah

Ziyadah berasal dari kata زَادَ – يَزِيْدُ adalah menambah, meningkatkan, menumbuhkan, memperbanyak, mempertinggi, memperbesar, menjadi lebih. Maksudnya yaitu menambah hafalan Al-Quran untuk ayat yang baru dihafalkan.

Murojaah berasal dari kata رجع يرجع )raja’a-yarji’u( artinya kembali. Istilah Murojaah artinya mengulangi hafalan atau membaca kembali secara rutin ayat-ayat Al-Quran yang sudah dihafalkan.

Murojaah adalah aktivitas rutin para penghafal Al-Quran yang bertujuan agar hafalan senantiasa terjaga dan mendapatkan pahala dari setiap huruf yang dibaca.

 

Definisi Tahsin, Tajwid, dan Makharijul Huruf

Tahsin berasal dari bahasa Arab: تحسین, artinya memperbaiki, meningkatkan, atau memperkaya. Tahsin adalah membaguskan bacaan Al-Quran agar benar dan tepat sesuai dengan contoh bacaan yang dipraktikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tajwid bahasa Arab: تجويد, berasal dari kata جوّد-يجوّد-تجويدا (jawwada) secara harfiah berarti melakukan sesuatu dengan elok, indah, atau bagus dan membaguskan. Adapun dalam ilmu Qira’ah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya.

Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan huruf-huruf Al-Quran berdasarkan hukum bacaan tajwid atau misalnya panjang pendeknya.

Makharijul Huruf مخارج الحروف yaitu tempat-tempat keluar huruf dengan tepat sehingga fasih dalam pengucapan ayat-ayat Al-Quran tanpa pengaruh dialek bahasa daerah.

Definisi Talaqqi dan Halaqah

Talaqqi secara bahasa diambil dari kata-kata “laqia” لَقِيَ yang berarti berjumpa atau bertemu.

Sedangkan “talaqqi” تَلَقَّى – يَتَلَقِّي berarti menerima, mengambil, atau mendapatkan. Talaqqi artinya belajar secara langsung di hadapan seorang guru.

Talaqqi juga disebut musyafahah yang artinya dari mulut ke mulut. Dalam metode ini, para pelajar memperhatikan gerak bibir sang guru agar mendapatkan pelafalan dengan makhraj yang benar.

Metode talaqqi adalah sebuah cara belajar mengajar Al-Quran dari Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Kemudian dari sahabatnya itu diteruskan pada anak-anaknya, sampai berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya sampai saat ini.

Halaqah secara bahasa تَحَلَّقَ يَتَحَلَّقُ حَلْقَة artinya lingkaran, mengumpulkan dalam lingkaran, mengepung, melingkupi, melingkari misalnya pada kalimat halqah min al-nas (حلقة من الناس) artinya kumpulan orang yang duduk melingkar. Secara istilah biasa digunakan sebagai pertemuan untuk mempelajari ajaran agama Islam.

Halaqah Tahfizh Al-Quran lebih spesifik lagi yaitu pertemuan untuk mempelajari dan menghafal Al-Quran secara melingkar. Proses belajar mengajar dilakukan dengan cara guru dilingkari oleh murid-murid atau peserta yang belajar Al-Quran.

 

Definisi Tasmi’ dan Mutqin

Tasmi’ berasal dari bahasa Arab asal kata سمع يسمع sami’a yasma’u. Tasmi yaitu memperdengarkan. Secara istilah dalam bidang menghafal Al-Quran berarti memperdengarkan bacaan hafalan Al-Quran dihadapan guru agar dikoreksi ketepatan dalam hafalan dan pengucapan.

Mutqin adalah secara bahasa artinya kuat, melekat, dan benar. Agar hafalan Al-Quran bisa mutqin maka memerlukan usaha yang berkelanjutan dalam murojaah . Setelah proses menghafal Al-Quran, tahapan berikutnya yaitu mutqin yakni untuk lebih memantapkan ayat per ayat, baik dari segi lafadz, makna, serta implementasi isi kandungan dalam kehidupan.

 

Definisi Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional

Karantina berdasarkan KBBI, kata ‘karantina’ artinya tempat penampungan sementara yang lokasinya terpencil, guna mencegah terjadinya penularan, gangguan, pengaruh negatif, dan sebagainya. Tahfizh yaitu program menghafal Al-Qur’an atas bimbingan ustadz yang hafal Al-Qur’an sehingga murid-murid mampu menghafal Al-Quran juga.

Tahfizh Al-Qur’an terdiri dari dua kata, yaitu tahfizh dan Al-Qur’an yang keduanya memiliki arti berbeda. Kata tahfizh / tahfidz adalah bentuk masdar ghoir mim dari kata يَحْفَظُ حَفِظَ حِفْظًا yang berarti mendorong untuk menghafal. Menghafal juga diartikan menjaga, menyamakan, dan memelihara. Orang yang hafal disebut sebagai penjaga, pengawal, pemelihara dan penghafal.

Pada kamus Bahasa Arab, kata tahfizh berasal dari kata hafizha حَفِظَ berarti menjaga atau jangan sampai rusak dengan cara memelihara, dan melindungi.
Karantina Tahfizh adalah tempat dan proses sementara untuk menghindari gangguan dari luar dalam rangka pembiasaan aktivitas menghafal Al-Quran.
Karantina Tahsin adalah tempat dan proses sementara untuk menghindari gangguan dari luar dalam rangka perbaikan bacaan Al-Quran.

Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional, yaitu tempat penampungan sementara yang lokasinya terpencil guna menghindari gangguan dari hal-hal yang dapat mengganggu proses menghafal Al-Qur’an dalam periode tertentu misalnya program sebulan, dua bulan, tiga bulan maupun hitungan hari.
Sedangkan kata ‘nasional,’ yaitu meliputi suatu bangsa atau bangsa sendiri, dalam hal ini meliputi wilayah Indonesia.

 

Definisi Dauroh Tahfidz Quran dan Buku Mutaba’ah

Dauroh Tahfidz Quran diambil dari Bahasa Arab yaitu kata دَارَ – يَدُوْرُ – دَوْرَة yang artinya memutar, berputar, berotasi, berkeliling biasa juga diartikan sebagai pelatihan.

Dauroh Quran lebih spesifik yaitu pelatihan membaca, menghafal, atau mempelajari Al-Quran. Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional tidak mengistilahkan Dauroh Tahfidz melainkan karantina tahfizh Al-Quran sebagaimana istilahnya sudah dijelaskan seperti di atas.

Buku Mutaba’ah berasal dari asal kata bahasa Arab تَتَابَعَ – يَتَتَابِعُ artinya mengikuti keberhasilan/kesuksesan orang lain. Biasanya digunakan dengan istilah buku mutaba’ah maksudnya yaitu buku catatan yang berfungsi untuk mencatat keberhasilan menyetorkan hafalan Al Quran.

Setoran hafalan Al Quran adalah proses hafalan Al-Quran disimak oleh guru atau orang lain yang juga hafal quran atau bacaannya sudah lebih baik.

 

Definisi Metode Yadain Litahfizhil Quran

Metode Yadain Litahfizhil Quran berasal dari kata “Yadain” menurut bahasa berasal dari kata Yadun يَدٌ artinya tangan, Yadain يَدَيْ artinya dua tangan.

Sedangkan menurut istilah Metode Yadain Litahfizhil Qur’an adalah suatu cara untuk memudahkan menghafal Al-Qur’an dengan dengan tujuan untuk menghafal dan mengetahui bunyi ayat Al-Qur’an, terjemah, dan penomoran dengan menggunakan visualisasi tadabur bagian kiri dan kanan.

Inti materi metode Yadain yaitu Visualisasi Tadabbur, Al-Quran Virtual, dan Jari Al-Quran Yadain sebagaimana dibahas pada artikel-artikel website ini.